Monday, 12 March 2012

‎"Mereka itu titipan. Bukanlah boneka yang kita bentuk hanya karena kita yang mengasuh mereka sejak mereka terdampar di dunia ini. Mereka juga bukanlah media sebagai pelampiasan atas hal-hal yang tidak bisa kita capai sewaktu muda. Akan ada saatnya mereka bergerak sesuai dengan pemikiran mereka sendiri dan keputusan mereka adalah hal yang mutlak bagi mereka. Tugas kita sebagai yang dititipkan hanyalah berusaha semaksimal mungkin agar apa-apa yang ia harapkan dapat tercapai. Bukankah kesuksesan mereka adalah kebahagiaan bagi kita? Dan pastinya, kesuksesan mereka adalah hal yang paling berharga bagi mereka untuk zaman baru yang akan mereka hadapi."


-Renungan tentang hakikat seorang anak

Sunday, 26 February 2012

Terima kasih telah menjadi cintaku selama ini...
Di setiap kejatuhanku
Di saat hilangnya kepercayaanku
Di saat-saat kesendirianku

Terima kasih telah menjadi cintaku selama ini...
Ketika emosi telah meluluh-lantakkan hatiku
Dengan sebuah nasihat lembut yang meluncur dari hatimu
Tertaut sudah layaknya air memadamkan api nurani

Tanpa kusadari
Waktu yang berjalan telah membuatku tersentak
Kali ini kau yang mampu memahamiku
Untuk semua kekhilafanku

Dalam setiap diam nya dirimu
Telah mampu mengetuk batinku yang terdalam
Dan kembali lagi kepadamu
Sebagai poros cintaku

Kau yang memantik api cinta dalam kalbu
Dan perlahan, kau pula yang menjaganya
Dengan sabarnya engkau jaga ia dari angin yang membinasakan
Atau dari luapan air yang berasal dari mangkuk kefanaan

Dan kini ku tatap hari dengan melihatmu
Ya, dengan dirimu aku melihat sebuah kemungkinan
Tidak ada keraguan yang terdapat di dalamnya
Kita lihat saja bagaimana waktu membawa kita berdua pergi

Jauh... Dan meniti langkah yang sama untuk pertemuan dibalut dengan cinta dan kerinduan yang suci... Dan aku takkan berhenti berharap dan berusaha untuk membuat diriku pantas... Izinkan hamba mengucapkan do'a terindah bagi para pecinta yang terselimuti oleh keagungan cinta-Mu di atas ubun-ubunnya...

Jadikanlah hati kami ini adalah hati yang tak henti-hentinya mengingat-Mu dan jadikanlah hati kami berdua menjadi hati yang senantiasa memberikan yang terbaik bagi-Mu dan bagi kami berdua... Berikanlah hati kami kekuatan untuk saling mengerti dan memahami... Kekuatan untuk bersabar dan untuk menasihat dalam kebaikan... Kekuatan untuk saling memberi dan menerima... Serta kekuatan untuk saling mencintai dan memberikan yang terbaik... Dan rekatkanlah hati kami di dalam selimut cinta-Mu...

Telah ku azzamkan dalam hati... Karena cinta ini mengajakku untuk mendekati-Mu, maka izinkanlah kami merajut tali kasih dalam kelembutan-Mu....

Aamiin...

Tuesday, 21 February 2012

Watch your thoughts, they become words.
Watch your words, they become actions.
Watch your actions, they become habits.
Watch your habits, they become character.
Watch your character, it becomes your destiny.
-Lao-Tzu (philosopher of ancient China)



http://m.andriewongso.com/artikel/english_corner/4973/Your_Thoughts_Become_Your_Destiny/

Thursday, 9 February 2012

They don't know, that disappointed is another kind of love. If you have no love on it, then, why you have to be disppointed? Because of love, comes so many hopes from us... After a hope has been rooted deeply on your heart, and then what we saw...and what we experienced was different from what we hope before. So comes a heartbreak "here"..


So, a heartbreak is everywhere, just like love and hopes used to.. But then, comes a big question, do we deserve to dare not to have any hope because we afraid in the end we will got disappointed?  The answer is, of course not.


Because of that hopes, we will be fully charged to face this world. Because of that hopes, makes us work, always do and give the best in every single glance of our life. And also, that hopes makes us exist. Don't be dare to hope for a heaven.




"Mereka tidak tahu, bahwa kecewa itu tanda cinta. Kalau tidak cinta, tidak mungkin kecewa. Karena cinta, maka muncullah berbagai harapan kita. Setelah harapan tertanam, ternyata apa yang kita lihat dan kita alami tidak seperti yang diharapkan. Maka muncullah kecewa.

Jadi, kecewa itu ada dimana-mana, karena cinta ada dimana-mana, karena harapan ada dimana-mana. Namun muncul pertanyaan, pantaskah kita tidak berani memiliki harapan karena takut dikecewakan ? Jawabannya jelas, tidak pantas !

Karena harapan itulah yang membuat kita bersemangat, karena harapan itulah yang membuat kita bekerja, karena harapan itulah yang membuat kita selalu berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik, bahkan karena harapan itu pula yang membuat kita ada. Jangan takut memiliki harapan masuk surga."

-Rahman Fadli - PBR 2009 -Ketum BEMJ Bio 2011-2012

Friday, 13 January 2012

Sebuah cerita

Bagian V

Rembulan

Aku telah cukup lama menanti. Dan kini,kedekatanku dengan Khafiya jauh lebih baik daripada saat-saat pertama bertemu. Bersama dengannya,aku melukis langit dengan jari-jari tangannya yang lembut. Dan ketika malam tiba,aku menatap langit yang gelap gulita. Sang-Rembulan seakan sedang tidak ingin menatapku. 
Namun itu cukup untuk membuatku membuka kembali ingatanku di waktu lampau.

Aku teringat tentang pertemuan pertamaku dengan Wulan,sebuah oasis kecil di tengah padang pasir yang luas itu. Waktu itu aku masih terlalu muda untuk memahami arti cinta. Yang kurasakan hanya canda dan tawa di setiap waktunya. Walaupun terkadang ia menggangguku,tapi tetap saja semua akan kembali seperti sedia kala.

Lalu aku teringat tentang pertemuanku dengan Sang-Lautan,Rana. Entahlah… Aku tidak merasakan apa-apa ketika mengingat itu. Karena yang kutahu,sifat yang ia miliki seperti dirinya apa adanya. Ia membawaku dengan lembut ketika bulan purnama memancarkan kecantikannya. Namun ia mencampakkanku ketika bulan gelap. Seperti itulah yang ia miliki. Pasang surut mengikuti keadaan yang ia miliki dan yang sedang ia alami. Setidaknya itu memberikan peringatan bagiku untuk waktu yang sedang merajut kejadian-kejadian yang akan aku alami.

Dan tanpa kusadari,sebuah awan putih melintas di atas pandanganku. Memang bukan Lina,tetapi itu cukup untuk membuatku memutar kembali rekaman yang dahulu.

Ya…Dirinya seperti awan itu. Ia lembut,cantik dan menawan serta meneduhkan para pengembara. Namun harus kuakui,segala sesuatunya hampir tidak pasti. Disaat cahaya menerpa tubuhnya,ia akan tidak terlihat. Dan disaat cahaya yang ada berada pada kondisi yang ideal,ia akan terlihat indah. Tapi apakah harus seperti itu? Sudahlah,aku hanya bisa menertawakan masa lalu.

Ternyata aku terlalu terbawa suasana saat itu hingga aku tidak menyadari bahwa Sang-Ruby hijau itu telah berada di sampingku. Harus ku akui,ia jauh lebih matang dalam berfikir daripada diriku. Namun tetap saja,terkadang ia keras kepala walaupun aku terkadang jauh lebih keras kepala daripada dirinya.

Aku pikir aku saat ini sedang berkhayal. Tapi ternyata tidak.

Dan aku sedang berada pada waktu dimana Sang-Rembulan mulai tergelincir menuju peraduannya. Sejenak,aku memejamkan mataku untuk merasakan manisnya udara malam hari dan harumnya wewangian yang ia pakai dari tubuh-tubuh bunga yang menebarkan pesonanya bagi para makhluk nocturnal. Sebuah kecantikan yang tersembunyi dibalik selimut malam.

Dan disaat aku membuka mataku,semburat cahaya kehijauan berjalan melintas di hadapanku dengan jelasnya. Dan aku berfikir bahwa itu adalah Aurora. Begitu indah…

Hampir saja aku terlambat menyadari bahwa Sang-Ruby tengah memudar...
(28 Mei 2011)

Sebuah cerita

Bagian IV
Ruby
Keesokan harinya,aku mendapatkan sebuah balasan surat. Bukan dari Wulan… Dengan perlahan aku membuka surat itu dan ternyata itu berasal dari Ruby hijau itu! Dengan perlahan aku membuka surat itu dan mulai membaca isinya. Ia menulis “Maaf ya,aku baru bisa membalas suratmu sekarang. Aku sudah mendengar tentangmu dari kakak ku,oasis itu. Perkenalkan,namaku Khafiya”. Aku hanya terdiam melihat balasannya yang teramat sangat singkat. Dan seingatku,aku mengirimkan surat kepadanya adalah dua tahun yang lalu.
Aku pun mulai mencari informasi mengenai tempat Ruby itu berdiam diri. Ternyata ia tinggal di sebuah pegunungan dimana ia berdiam di puncak gunung yang terindah. Aku pun mulai mencari dan akhirnya kutemukan sudah pegunungan yang dimaksudkan. Dari kejauhan saja,aku sudah dapat merasakan pancaran kecantikannya yang tergambar jelas di gunung tersebut. Sebuah pelangi yang seakan melompati gunung itu dan juga deru air terjun yang memanjakan telingaku. Aku pun terus menuju puncaknya yang dingin…
Setiap kali aku bertanya kepada para warga yang berada di sekitar gunung itu,mereka selalu mengatakan,”Dia wanita yang cantik serta baik budi pekertinya. Seorang wanita yang penuh dengan kreatifitas yang tinggi serta amatlah dalam lautan ilmunya. Dia ibarat kata seorang wanita yang hanya ada tiap seribu tahun sekali di dunia yang fana ini”.
Aku hampir sampai ketika senja semakin menutup mataku. Dan,aku hanya dapat melihat dirinya dari kejauhan saja.. Aku tak dapat mendekatinya sedikitpun. Setiap kali aku berusaha tuk mendekat,ia menjauhiku. Namun ia tetap berbicara denganku walaupun aku sendiri tak dapat melihat wajahnya langsung.
Namun dari sinilah,aku mulai merasakan sesuatu yang membuat semangatku kembali lagi. Sesuatu yang mungkin telah lama hilang ternyata berada disini. Aku merasakan sebuah keterikatan dengan dirinya walaupun tidak sama seperti yang kurasakan dengan orang-orang yang kutemui sebelumnya. Bahasa kesunyianlah yang selalu menyatukan diri kami berdua.
Lalu,kukirimkan surat untuk oasis itu “Aku sepertinya akan tinggal lama sekali di tempat ini. Terima kasih banyak ya,aku pasti akan menjengukmu lagi”.
Dan dari dirinya aku belajar bahwa jika cinta datang tidak pada waktunya,maka engkau tidak akan hidup. Karena cinta yang hadir tidak pernah tercipta untuk menyakiti siapapun. Dan sebuah persahabatan lebih indah dari sebuah kisah cinta.
(19 September 2010)

Sebuah cerita

Bagian III
Awan
Telah hampir satu bulan lamanya aku berjalan di dataran tandus ini untuk menuju sebuah kota yang tertera dalam peta milikku. Sebuah kota yang pernah menjadi pusat penjajahan dalam sejarah kelam negara ini. Sebuah kota yang bernama “AVIA”

Aku mencari sebuah penginapan biasa saja yang tidak terlalu mewah dan berdiam di kota itu selama mungkin hingga aku merasa sanggup tuk melanjutkan perjalananku kembali. Aku merasa senang,merasa terhibur. Namun,mengapa hanya hampa yang dapat kurasakan dengan jelas? Aku harap agar aku bisa kembali seperti sedia kala dalam waktu dekat..

Aku menuliskan banyak surat untuk sang oasis yang telah menjadi penyelamatku dan juga saudaraku. Semuanya aku tulis dengan gembira dan dengan hati yang berdegup. Dan selama di kota ini,aku tidak pernah tidak mengirim walau hanya sebuah surat kepada osis tersebut.

Telah satu minggu aku berada di kota ini. Namun aku masih seperti mayat hidup yang terus menerus membesar dalam kebohongan.

Aku berjalan di taman kota dan kudengar percakapan dua orang wanita muda yang saling memuji. Aku kira mereka saling memuji satu sama lainnya,namun ternyata mereka membicarakan sesuatu. Mereka membicarakan tentang kedatangan sebuah awan dari Utara. Sebuah tempat dimana kebijaksanaan,kesetiaan dan kecantikan berasal. Dan dari yang aku dengar,ia akan tiba di kota ini esok pagi. Aku menjadi tak sabar dengan datangnya hari esok.

Keesokan harinya,aku melihat ia datang dengan para masyarakat berhamburan untuk melihat dirinya. Sebuah sosok yang amat cantik melewati keramaian itu. Wajahnya yang putih bersih serta senyumannya yang menyejukkan dan teduh membuat aku sedikit tidak percaya bahwa ada wanita yang begitu sempurnanya bentuk fisik yang ia miliki. Dari kejauhan,aku sedikit mengaguminya,namun tiba-tiba aku seperti membeku. Aku merasakan bahwa ia melihat langsung kepada diriku. Awalnya aku melihat ke sampingku,mungkin saja ia melihat kepada orang yang berada di sekitarku. Namun prasangka itu salah. Ia justru menghampiriku dan mengajakku jalan menuju sebuah tempat yang ia bilang bahwa ini adalah tempat favoritnya di kota ini.

Dua bulanlah sudah aku bersama dirinya di kota ini. Dari berbagai pembicaraan antara kami berdua,aku mengetahui bahwa ia bernama Lina. Dan ketika bersama dia, aku pernah dikejutkan oleh sikap dia yang tidak normal pada suatu hari. Dan di penghujung hari itu, ternyata dia datang kepadaku dalam keadaan paling cantik yang belum pernah aku lihat pada dirinya sebelum ini. Ia mempersiapkan kejutan ini untuk memperingati hari lahirku. Mungkin aku adalah lelaki beruntung saat itu. Namun, entah mengapa, pertemuanku dengan Lina kali ini terasa tidak sama seperti pertemuanku dengan Rana maupun Wulan. Aku merasa ini tidak seharusnya terjadi… Ya, lebih tepatnya, aku cemburu. Aku pun mengatakan kepadanya bahwa aku akan melanjutkan perjalananku esok hari,dan dia hanya mengangguk saja sambil berlalu..

(19 September 2010)