Wednesday, 16 March 2016

Muhasabah Hati

Tuhan
Aku sudah berdoa kepada-Mu agar segera mengambil kesempatan yang telah Kau berikan ini…
Karena, yang kutahu selama ini bahwa aku hanyalah seorang pendosa…
Aku masih merindukan-Mu, sehingga aku pikir, jika aku bertemu dengan-Mu lebih cepat, akan lebih mudah bagiku untuk mempertanggungjawabkan dosa-dosaku

Tuhan…
Aku sudah bersujud kepada-Mu agar Engkau menyegerakan kedatangan malakul maut kepadaku…
Aku lelah Tuhan… aku lelah untuk melakukan dosa disaat kebaikanku tidak pernah dianggap oleh manusia…
Aku mulai lelah dengan keyakinanku bahwa semua kebaikanku biarlah Engkau yang mengetahuinya…
Ampuni aku Tuhan… aku hanya manusia biasa yang tidak akan pernah pantas untuk bertemu dengan-Mu…

Tuhan, Engkau dimana?
Mengapa do’aku belum juga Engkau kabulkan?
Aku tidak meminta kekayaan lagi Tuhan…
Aku tidak meminta jabatan pula…
Dan aku sudah lelah dengan meminta pendamping bagiku…
Aku hanya meminta agar Engkau menyegerakan kematianku, itu saja Tuhan.
Karena dua malaikat penjaga yang Engkau berikan ternyata tidak sepenuhnya mengerti akan diriku…
Aku merindukan-Mu Tuhan, karena yang kuyakini, hanya Engkau yang lebih memahami diriku daripada orang lain di dunia ini…

Tuhan…
Aku sudah bersujud dan meneteskan air mataku demi do’aku ini…
Bawalah aku ke sisi-Mu segera…
Aku membutuhkan-Mu untuk menenangkanku, aku tidak butuh manusia yang fana.
Bebaskan aku dari tubuh duniawi ini Tuhan…


Tuhan, aku mengalah kepadamu…
Dua tahun sudah aku habiskan hidupku dengan do’a itu, bahkan di dalam Rumah-Mu pun sudah kusebut do’a itu, dan Engkau masih belum mengabulkannya setahun setelahnya…
Jika memang aku ditakdirkan untuk sesuatu hal, tunjukkan lah segera agar aku dapat menuntaskan amanah-Mu…
Dan setelah tugas itu selesai, segeralah ambil jiwa ini segera dalam keadaan baik-baik Tuhan…
Jangan sampai Engkau menjadikanku orang yang tersesat dan Engkau laknat…
Ataukah mungkin, itu adalah takdirku?
Yaa Allah Yaa Rahman Yaa Rahiim…

Segera ambil jiwaku sebelum aku menjadi manusia yang dilaknati oleh-Mu.

Sunday, 13 March 2016

Tentang Orangtua

Bukankah Tuhan mengatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi ujian hidup bagi setiap manusia? Harta, tahta dan keluarga. Semuanya adalah titipan dan juga menjadi ujian bagi kita selama hidup di dunia.

Tentang keluarga, semua aspek keluarga adalah ujian. Entah itu anak menjadi ujian bagi orangtua ataupun orangtua yang menjadi ujian bagi sang anak. Istri yang menjadi ujian bagi seorang suami ataupun suami yang menjadi ujian bagi seorang istri. Dan semua status keluarga yang lain, paman, tante, kakek, nenek, mertua, itu semua adalah ujian yang nyata.

Setiap manusia pasti pernah menjadi seorang anak, namun tidak semua manusia bisa menjadi orangtua. Aku pikir, ada hal yang klise dalam status dan kedudukan antara orangtua dan anaknya.

Pernahkah terbayang, bahwa dunia ini sendiri pun hanyalah cobaan? 

Pertanyaan pertama yang selalu terbayang di pikiranku adalah
“Sebenarnya, kehadiranku di dunia ini kehendaknya siapa?”

Aku tidak pernah mengharapkan sebuah kehidupan di dunia ini. Karena dengan memahami hakikat dari sebuah kehidupan, manusia tidak pernah benar-benar memiliki sesuatu.

Yang kutahu, aku dititipkan oleh Tuhan di dalam rahim seorang wanita yang menginginkan kehadiran seorang anak. Yang sangat kusesali sekarang adalah ketidaktahuan mereka tentang diriku yang akan hadir di tengah kehidupan mereka.

Adakah seorang anak yang benar-benar terlahir di dunia ini atas dasar kehendak dari dirinya sendiri? Bahkan Adam pun tidak pernah benar-benar meminta untuk diciptakan. Namun bimbingan yang sempurna dari Tuhan telah membentuknya menjadi manusia yang mengerti akan makna kehidupan sebagai manusia.

Jika, seorang anak tidak memiliki kehendak bebas untuk memilih hidup di dunia ini. Maka, siapa yang seharusnya bertanggung jawab penuh terhadap kehidupan sang anak di dunia?

Tuhan mengatakan bahwa seorang anak bagimu adalah titipan dan ujian. Yang secara eksplisit mengatakan bahwa seorang anak memang memiliki darahmu, namun bukan merupakan bagian dari jiwamu.

Maka, apakah pantas apabila ada orangtua yang berkata kepada anaknya “Dasar anak durhaka! Ibu mengandung dirimu selama 9 bulan dan menyusuimu selama 2 tahun, lalu membesarkanmu hingga kamu sebesar ini. Dan ini yang ibu dapatkan darimu?!”

Dengan segala macam hormatku kepada seluruh orangtua di dunia, aku akan mengatakan ini.

“Ayah, Ibu, anakmu ini tidak pernah meminta untuk dilahirkan di dunia ini. Apakah kami serta merta muncul di dalam rahim mu, ibu? Apakah kami memiliki kehendak untuk memilih calon orangtua kami? Tidak…

Yang kutahu, wajah kalian menyambutku dan kalian meminta agar kalian dipanggil sebagai ‘ayah’ dan ‘ibu’.”

Memang benar bahwa manusia selalu meminta sesuatu yang bahkan tidak pernah mereka pahami.

Manusia meminta kekayaan, namun mereka tidak tahu cara menggunakannya.

Manusia meminta pasangan hidup, namun mereka tidak tahu cara berinteraksi dengan baik terhadapnya.

Dan manusia mengharapkan kehadiran seorang anak, namun mereka tidak pernah tahu akan seperti apa sang anak di masa depan nanti.

Sesederhana itu hierarki di dalam keluarga. Apakah anda menyadarinya?  Lihat sekeliling kita dan coba renungkan, apa masalah utama di negeri ini?

Istilah “BANYAK ANAK, BANYAK REZEKI” masih saja berlaku bagi mereka yang berkemampuan ekonomi di bawah rata-rata. Bikin anak sih emang gampang dan cenderung “nikmat” jika di bahas dalam ranah biologi. Lah trus itu anak banyak mau dikasih makan apa? Banyak anak banyak rezeki sih bisa aja kalo tuh anak dijual kayak anak ayam sepuhan.

Oke, ini emang tulisan lama gue. Lama banget. Dan karena kondisinya nanggung, gue coba lanjutin tapi ternyata jadi begini bahasanya, ahaha.


Semoga bermanfaat!

Ilusi Riba

Copas dari FB Dewa Eka Prayoga, sumber dari @Saptuari

ILUSI RIBA... DAN KITA MENIKMATINYA!
"Waah selamat ya bu.. Mobil baru nih, platnya masih putih, interiornya masih wangi bau pabrik.."
"Eh.. Iya.. iya jeng, makasih.. Alhamdulillah dikasih rejeki oleh Allah"
(Dalam hati: duuuh.. Gak tau dia kalo mobil ini kredit, cuman DP 30 juta, sisanya ngangsur 4 tahun)
-------
"Wuuiik! Motor baru brooo.. Dah 150CC ini yak? Makin ganteng lu pakai motor ini.. Beli cash berapa bro?"
"Yooi cuy! Tarikannya mantaab, ngepoott bisa muter 470 derajat celsius! Enteeng dah.."
"Beli di dealer mana? Beli cash berapa bro?"
"Eh elu haus enggak.. Ada yang jual es tebu tuh disana!"
(Dalam hati: waaaduuuh, ketahuan beli kredit gengsi nih gua! dah ganteng-ganteng gini masak naik motor utangan, jadi GGK dong.. Ganteng-Ganteng Kreditan!)
-------
"Waah pak, rumahnya nyaman sekali di kompleks ini, fasilitasnya lengkap, banyak pohonnya.. Belinya berapa pak kemarin?"
"Aah.. Masih milik bank rumah ini pak, saya KPR 15 tahun, kalau gak nekat ya susah beli rumah jaman sekarang pak.. Bayar DP aja, nanti nyicil urusan belakangan"
"Ooo gitu ya pak.. Saya mau KPR tuh gak berani pak, 15 tahun saya bayar cicilan. Saya milih beli tanah yang murah aja pak, pelan-pelan saya bangun tiap dapat rejeki, alhamdulillah sudah mau 4 tahun, bulan depan mau masang gentengnya pak.."
"Eh iya pak.. Saya juga sempet mikir gitu dulunya, tapi aduh ini mumpung dapat yang cocok pak, akhirnya nekat aja deh.."
------
"Heeei.. handphone baruu yaa! Gilee iPhone 6S plus! Ini kan mahaaal gilak! 14 juta kan harganya!"
"Yaa demi komunikasi laah biar lancar, kalo lancar kan kerjaan juga gak ketinggalan, beres semua ditangan"
(Dalam hati: gak tau dia, aku beli hape ini gesek 2 kartu kredit, sebulan bayar 1,3 juta sampai 12 kali bayar. Gak papa lah.. Kalo aku pakai hape ini kan orang juga segen ngeliatnya.."
--------
"Ciyeee yang habis pulang dari Dubai.. Foto-fotonya eksis benerrrr di instagram! Keren lo.. Oleh-oleh mannaa?"
"Eh iyaaa.. Mumpung masih muda, sebanyak apapun tempat itu kita jelajahi, biar gak nyesel nanti kalau udah tua bro! Pokoknya bisnis jalan, ownernya jalan-jalan.."
(Dalam hati: duuh, jangan sampai tau dia.. Beli tiketnya kemarin pakai kartu kredit utangan, jalan-jalan sekarang, bayarnya cicil hingga 2 tahun ke depan...)
Mmmmm.....
Gak usah nunjuk siapa-siapa, lebih baik kita ambil kaca, yang gede sekalian. Berdiri di depannya.. Naaah itulah pelakunya!
Ilusi menjadi orang kaya, padahal sebenarnya belum mampu punya..
Kredit adalah kewajiban, yang penting keren deh itu tongkrongan..
Hutang adalah kebiasaan, yang penting harga diri naik drastis di depan teman..
Dan kita tidak sadar, bertahun-tahun kita terjebak dalam hutang dan kredit yang membelenggu hidup kita, merampas uang kita, bunga berbunga tak ada habisnya, cicilan demi cicilan tak ada ujungnya..
Sakit!!
Perih!!
Baru sekarang sadar, ternyata gaya hidup yang sudah menjebak kita..
Rejeki dari Allah itu PASTI CUKUP untuk hidup.. Tapi tak akan pernah cukup untuk gaya hidup!
Dan yang baru sekarang kita sadar, hutang-hutang kredit yang kita ambil itu adalah hutang RIBA!
RIBA? Apa itu mas?
RIBA adalah RAIB!
Rejeki yang asalnya dari riba akan berakhir dengan keraiban, hilang, musnah, semu, dan tidak ada keberkahan di dalamnya.
Semua pinjaman yang meminta kelebihan bayar jatuhnya RIBA, dan proses itu bisa terjadi dalam akad jual beli dan hutang-piutang!
Contoh:
1. Dalam akad hutang:
RIBA QARDH: hutang uang 1 juta dalam waktu 6 bulan, harus dikembalikan dengan bunganya 15%
RIBA JAHILIYAH: hutang harus kembalikan dalam waktu 1 bulan, jika tidak tambah 10%
RIBA NASI'AH: barang kredit tidak lunas dalam 1 tahun tambah denda 10%.
2. Dalam akad jual beli:
RIBA FADL: emas 5 gram, ditukar dengan emas 5,5 gram.
Atau
Menukar emas dengan perak secara kredit
-------------
"Mas siapa sih yang rese' bikin aturan RIBA itu haram dan dilarang? Padahal kan selama ini kita dah enak, bisa utang sana sini, bisa nyicil sana sini, bisa menikmati banyak hal bayar belakangan!"
Naaah.. Itulah masalahnya bro! Aturan tentang riba haram ini bukan ada di Undang Undang buatan DPR, bukan di PP buatan Presiden apalagi Kapolri!
Ini aturan Allah bro! Allaaah!
Tuhan yang menciptakan kita..
Yang menghidupkan kita,
dan kelak PASTI mematikan kita!
Wakwaaawww!
"Duuuh.. Masak sih mas?"
Gini gini coba dibaca ini, jangan kaget!
1. Majelis Ulama Indonesia (MUI) melalui Fatwa No. 1 tahun 2004 menyatakan bahwa praktek perbungaan saat ini baik yang dilakukan Bank, Asuransi, Pasar Modal, Pegadaian, Koperasi dan lembaga keuangan lainnya maupun yang dilakukan individu termasuk salah satu bentuk Riba, dan hukumnya HARAM.
Gak percaya? Nih download surat resminya MUI disini → http://mui.or.id/…/upl…/2014/11/32.-Bunga-InterestFaidah.pdf
2. Ketetapan akan keharaman bunga bank oleh berbagai Forum Ulama Internasional, antara lain:
a. Majma’ul Buhuts al-Islamiyyah di al- Azhar Mesir pada Mei 1965. Ada 300 ulama seluruh dunia berkumpul sepakat tentang ini.
b. Majma’ al-Fiqh al-Islamy Negara- negara OKI yang diseenggarakan di Jeddah tgl 10-16 Rabi’ul Awal 1406 H/22-28 Desember 1985.
c. Majma’ Fiqh Rabithah al-‘Alam al- Islamy, Keputusan 6 Sidang IX yang diselenggarakan di Makkah tanggal 12 – 19 Rajab 1406 H.
* Keputusan Dar al-Itfa, Kerajaan Saudi Arabia, 1979
* Keputusan Supreme Shariah Court Pakistan 22 Desember 1999.
------------
"Mas kalau seluruh ulama mengharamkan riba, kenapa praktek itu masih ada dimana-mana?"
Naaah... Karena ulama itu tidak memegang kekuasan bro, yang megang kuasa itu pemerintah. Tau sendiri kan negara kita, soal hutang jagoannya? Denger-denger hutang negara kita sudah 4300 trilyun! Kalo ditulis jadinya ini: Rp. 4.300.000.000.000.000!!
Kalo dibelikan cendol, klelep berapa kabupaten itu bro?
Dan tau enggak, kenapa ulama seluruh dunia mengharamkan? Mereka gak main-main, dasarnya Quran dan Hadist jelasssss banget! Cuman kita aja yang selama ini ngeyel, gak mau belajar ilmunya, cari pembenaran sendiri, ngutak-ngatik hukum dan aturan Allah biar yang haram jadi sedikit halal..
Padahaaal... Khamar itu haram, walaupun diminum di halaman mushola, pakai sarung, baju koko dan peci, minumnya cuman 1/4 sloki sambil baca Bismillah.. Tetap Haram!
Ketika kita ngeyel main-main dengan harta riba, maka yang terjadi KITA DAPAT UANGNYA, TAPI TIDAK DAPAT KEBERKAHANNYA..
Uangnya dapat, tapi entah pergi kemana?..
Kayaknye megang duit, tapi kok semua urusan jadi sulit..
Duit segepok, tapi halangan datang terus gak kapok-kapok...
Rekening kayaknya nambah, tapi sering dapat musibah..
Dapat uang sebukit, tapi keluarga terus-terusan sakit..
Itulah ciri rezeki yang tidak ada keberkahannya..
Padahal Allah jelasss banget mengingatkannya..
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan TINGGALKAN SISA RIBA (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), MAKA KETAHUILAH, BAHWA ALLAH DAN RASUL-NYA AKAN MEMERANGIMU. Dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu, kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”
(Al-Baqarah: 278-279)
Astagfirulllah.. Kita ngeyel, bakal diperangi langsung oleh Allah dan Rasulnya..
Nabi pun terus mengingatkan betapa bahayanya riba, karena efek menghancurkannya bertahun-tahun dalam kehidupan seseorang:
"Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), penyetor riba (nasabah yang meminjam), penulis transaksi riba (sekretaris) dan dua saksi yang menyaksikan transaksi riba..”
Kata beliau, “Semuanya sama dalam dosa.” (HR. Muslim no. 1598)
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata,
Rasulullah bersabda: “Riba adalah tujuh puluh dosa; dosanya yang paling ringan adalah (sama dengan) dosa orang yang berzina dengan ibunya" (HR. Ibn Majah)
Astagfirullah.. Double kick langsung mental terkapar kita!
"Terus kalo sudah terjebak dalam riba gimana mas? Bertahun-tahun terkekang hidup, tambal sulam dari hutang ke hutang.. Gali lobang tutup empang! Eh.. Nutup empang kecemplung jurang!"
Ya ayooo kita berjuang bareng, kita hijrah dari gaya hidup penuh hutang menuju hidup tanpa hutang.. Tanpa riba.. Pasti bakal tenang hidup kita.
Memang tidak mudah kawan, tapi justru disitulah bagian dari ikhtiar kita, saling mendukung dan saling mendoakan..
Ada yang selesai dalam hitungan bulan..
Ada yang hitungan tahun..
Tidak masalah, karena momen taubat itu yang Allah suka..
Ini langkah-langkahnya:
1. Taubat, kita minta ampun pada Allah karena pernah memakan harta riba, dan berjanji kita tidak akan menambah lagi hutang riba! Stop! Stop! Cukup!
2. Berazam bebas riba, artinya bercita-cita dan bersungguh-sungguh sampai mentok, untuk melunasi semua hutang kita.
3. Fokus menyelesaikan hutang, menunda semua kesenangan. Tiap dapat rezeki langsung diniatkan mengurangi pokok hutang. Dari yang terjadwal 15 tahun, eh bisa lunas dalam 5 tahun. Bisa juga menjual aset-aset yang selama ini menjadi beban, mau rumah, ruko, kendaraan, atau apapun jika sudah niat bener bebas riba ya lepaskan saja.
4. Minta doa dari orang sekitar, terutama dari ibu bapak kita, dari saudara dan kawan, dari duafa yang kita ringankan bebannya. Jangan remehkan kekuatan doa, kita tidak pernah tau dari mulut siapa doa kita dikabulkan..
5. Terus perbaiki ibadah, sholat tepat waktu, sedekah dan zakat jangan ditunda-tunda, zikir kita perbanyak, biar Allah juga mempercepat hajat kita.
Dan lihatlah kawan, ini janji Allah untuk kita..
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, إِنَّ اللَّهَ مَعَ الدَّائِنِ حَتَّى يَقْضِىَ دَيْنَهُ مَا لَمْ يَكُنْ فِيمَا يَكْرَهُ اللَّهُ
“Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah.”
(HR. Ibnu Majah no. 2400)
Tuh!
Kita AKAN DITOLONG OLEH ALLAH asal kita benar-benar berniat dan berusaha menyelesaikan hutang kita di dunia..
Buat kawan-kawan kita yang masih masuk golongan "Jamaah Ngeyeliah", sampaikan tulisan ini agar mereka sadar. Tugas kita menyampaikan, soal hidayah itu urusan Allah. Yang penting kita niatkan dapat pahala syiarnya..
Pesan Nabi:
"Barangsiapa menunjukkan suatu kebaikan, baginya seperti pahala yang melakukannya.." (HR. Muslim)
Ambil kaca lagi, mari instropeksi..
Jika hidup kita susah..
Hati sering gelisah..
Tiap hari banyak masalah..
Jiwa terasa gundah..
Semua urusan tak pernah mudah..
Halangan terus tak sudah-sudah..
Mungkin karena harta RIBA kita telan dengan serakah..
Salam,
@Saptuari
Mohon doanya dari kawan2 semua, untuk kelancaran buku yang akan kami terbitkan bulan depan kiki emoticon aaamiin
Boleh share

Senja di Masa Muda

Aku percaya pada takdirku, bahwa suatu saat nanti kita akan bertemu kembali.
Aku memiliki masa depan yang sangat menyilaukan mataku.
Kapankah hari itu akan datang? Bersama dengan kenangan yang mengikutinya.
Disaat kita bersenandung bersama di koridor sekolah.

Burung-burung itu bernyanyi di langit yang biru.
Dapatkah kau melihatnya dari sana?
Dari balik jendela kelas di lantai yang berbeda.
Kubayangkan engkau melakukan hal yang sama denganku.

Dentang bel istirahat pun berbunyi, bersama dengan derap kaki kecil yang kelaparan.
Aku selalu menatap ke atas sana.
Menanti wajahmu menatap wajahku di bawah sini.
Waktu yang sangat berharga bagiku kala itu.

Aku memiliki suatu perasaan yang ingin kumulai.
Dan kata-kata yang ingin kusampaikan di pagi hari itu.
Hey, aku lupa dimana aku menyimpan kata-kata itu!
Dan kita hanya saling tersenyum, tersipu malu dan menunduk. Terdiam.

Ini bukan kasih sayang, tapi cinta.
Aku tak pernah ingin kehilangan masa-masa ini.
Ku merasa seperti dapat menjadi apapun yang aku inginkan.
Dan dirimu adalah segalanya kala itu.

Ini bukan kasih sayang, tapi cinta.
Ketika ku memikirkanmu, itu menyakitkan.
Dengan semua kata yang tak pernah kusampaikan.
Dan hati yang tak pernah benar-benar terhubung.

Ini bukan kasih sayang, tapi cinta.
Pertemuan di koridor sekolah setiap pagi itu.
Dan semua bahasa tubuh kita yang terbawa oleh waktu.

Terima kasih atas segalanya.

Thursday, 30 April 2015

Merindu

Merindu adalah pekerjaan manusia mulia…
Mulia karena, mereka menyadari bahwa dirinya sendiri pun tak cukup mampu…
Mampu untuk dapat bertahan hidup dalam dunia yang bernama Bumi ini…

Merindu adalah pekerjaan para orangtua…
Orangtua yang sedang menanti…
Menanti lahirnya seorang jiwa suci ke dunia yang fana ini…

Merindu adalah pekerjaan para pujangga…
Pujangga yang terbatas dalam kesempatan berbicara terang-terangan…
Karena bagi pujangga, kehidupan dimulai setelah kematian datang…

Merindu adalah hak manusia…
Kau tahu, bahkan seekor anjing pun akan mencari kawanannya…
Ya, merindu adalah tentang mencari kesesuaian…
Mencari dan hanya dapat menerka
Sepasang suami istri pun tidak selalu sejalan, walaupun pada akhirnya mereka akan kembali menjadi perindu…
Bahkan antara ibu dan anak pun hampir selalu tidak sejalan dan sudah bukan rahasia umum lagi betapa rindunya sang ibu terhadap sang anak yang sudah ia sayangi bahkan sebelum anak itu hadir di dunia ini…

Adakah pekerjaan lain yang lebih mulia selain merindu?
Tidakkah kalian ingin juga menjadi seorang perindu?
Atau kalian tidak ingin merindu karena merasa tidak dirindu?

Wahai saudaraku, seorang manusia paling mulia terakhir yang Tuhan utus ke dunia ini bahkan merindukanmu!
Aku tidak membicarakan tentang agamaku, aku membicarakan dirimu!
Manusia terbaik itu bahkan lebih mengkhawatirkanmu daripada nyawanya sendiri ketika ruhnya sedang terlepas dari tubuh fananya…
Tuhanku berkata bahwa semua manusia pada dasarnya adalah suci…
Dan walaupun kita berbeda saat ini, aku tetap menganggapmu sebagai saudaraku…
Saudara yang aku rindukan…
Bukankah ketika di dalam alam Rahim, ruh kita telah bersaksi ?
Bersaksi bahwa kita mengabdi pada Tuhan yang satu…
Dan walaupun mungkin dunia memisahkan kita, aku tetap merindukanmu…
Karena itu berarti, aku yang lebih dipercaya untuk menjadi rahmat bagi alam semesta…
Pembawa kebaikan bagi dunia ini, yang itu berarti juga untukmu!

Masihkah engkau merasa tidak bisa merindu?
Mendekatlah saudaraku…
Akan kubisikkan impianku kepadamu…
Dekatkanlah telingamu…

Aku merindukan perdamaian dan kesatuan di dunia ini…
Ya, sebuah kesatuan…
Aku tidak membicarakan tentang menjadikan sebuah agama atau sebuah negara menjadi digdaya…
Aku merindukan sebuah keadaan dimana kita semua dapat saling menerima satu sama lain…
Pemuka agama yang tidak hanya bisanya berkumpul dengan yang setara dengan dirinya, namun juga mau dekat dengan para pendosa…
Mereka dapat berbicara layaknya sebagai saudara kandung yang telah lama terpisah…
Atau para bangsawan yang dapat benar-benar bergaul bersama mereka yang tidak mampu layaknya keluarga…
Terdengar seperti sebuah negeri utopia…
Memang sulit dan bahkan mustahil terwujud tanpa pertumpahan darah…
Dan seharusnya manusia menyadari apa yang paling berharga dalam hidupnya…
Seseorang yang mampu mengambil hak hidup manusia lainnya adalah seseorang yang seharusnya sudah siap pula untuk mati…
Dan karena itulah, maukah kau membantuku?
Mari kita lihat seberapa jauh langkah kecil yang dapat kubuat ini…




Wednesday, 25 March 2015

You are (not) alone

Well, here I am...
My eyes are far from letting my body to have a bit of rest.
Just like the TV program that I am watching now say, "Here, the magic biggest secrets finally revealed!" hahaha

Well then, I don't know how do I supposed to face this condition. Eh, wait, I lie, haha. ha.
.
Okay Nico that wasn't funny!
.
Just like that TV program said, there is something in my life that now finally revealed. After almost four years this kind of feelling bothering me. Well not four years, just two years since I graduating from my senior high actually.

As you can see from my previous post in this blog, all things that I write was about "love" and anything similar with that. By reading those post, it is easy to guess that I was in full with love to someone, right? haha. Just like Lea Salonga sang at Disney soundtrack "We Could Be In Love", yeah sure that everyone who's seen us, knows what's going on between us, it doesn't takes the genius to read between the lines *then crying* hahaha

Hell yeah now I do am free!!
All of those thoughts about you that always come round and round again around my mind now has get its answer. You never fell in love with me and it's me that was always thinks that you felt the same way I did to you.

Oh God... All hail for the Holy God!
Now, it's just a mere memory, yet if it have to be re-memorized for some purpose, maybe I will laugh at myself for a second and telling that "sick" story to the others whose are willing to hear that. Well I bet that no one wants to knew kind of that story. Yet just to "purify" my thoughts of you was worth of nearly two years trying since you never replying my message after the last time we met at February 2012 after having a breakfast at Dago Street when you are doing kind of fundraising at Car Free Day on that street.

Thanks for all of the things you did to me. Thank you for teach me some new vocab from your blog post. Well, actually that is me who are "stalking" on your blog, haha.

Just like you said on our last continuous poems, we are just like the sun and the moon after the graduation ceremony from high school, right?

My deepest apology for all my mistakes, and thank you for making me like this right now :)

Monday, 16 March 2015

Menasihati

Saling Menasihati

Pada suatu hari di negeri para binatang ketika hari menjelang malam, para penduduk negeri ini sedang bergegas menuju masjid untuk melakukan ibadah Maghrib. Tidak terkecuali, semua pejantan datang menuju masjid, untuk menunaikan kewajiban mereka kepada Sang Pencipta.

Di sela-sela keramaian tersebut, terdapat dua ekor anak kambing anaknya pak Ustadz Mbing, mereka berdua adalah si Putih dan si Hitam. Keduanya terlihat asik bercanda satu sama lainnya dalam perjalanan menuju masjid. Di dalam diri mereka terdapat semangat baru untuk menjadi insan yang lebih baik lagi setelah mendapatkan nasihat dari ayahnya, Ustadz Mbing.

Sesampainya ditempat wudhu, mereka memperhatikan sekeliling dan melihat ada seekor sapi yang sudah cukup tua tampak salah dalam tata urutan berwudhu. Putih melihat itu dan berkata kepada kakaknya “Kak, kak, lihat pak sapi itu, urutan wudhunya salah…” kata si Putih berbisik kepada kakaknya. Si Hitam pun menoleh dan berkata “Wah, iya, benar juga.” Sahut si Hitam mengiyakan perkataan adiknya. “Kak, kata ayah, kita itu harus bias saling menasihati jika kita melihat kesalahan di depan mata kita kak. Ayo kita nasihati kakek sapi itu kak” seru si Putih dengan semangat membara. Beberapa saat si Hitam terdiam, lalu berkata “Adik, coba kamu lakukan wudhu tapi dengan cara yang salah juga” kata si Hitam. Si Putih yang bingung, akhirnya menuruti perkataan kakaknya. Yang Putih tahu, kakaknya memiliki rencana untuk menasihati kakek sapi tersebut.

Lalu, si Putih pun memulai wudhunya yang salah. Baru urutan pertama, si Hitam langsung berbicara dengan suara yang cukup keras namun tetap penuh kasih saying “Waduh Putih, kamu salah urutannya. Yang pertama itu adalah membasuh kedua telapak tanganmu dulu.” seru si Hitam kepada adiknya. Si Putih pun mengikuti perkataan kakaknya dan begitu seterusnya hingga akhirnya wudhu mereka selesai.

Ketika wudhu si Putih selesai, si Putih pun menengok ke tempat si kakek sapi berada dan kakek sapi itu tersenyum kepada mereka berdua dan mereka pun membalas senyuman kakek sapi kepada mereka.

Setelah selesai shalat, si Putih bertanya kepada kakaknya “Kak, mengapa tadi kakak menyuruh aku melakukan wudhu yang salah?” tanya si Putih dengan rasa penasaran. Hitam pun berkata kepada adiknya “Adik, ingat pesan ayah? Jika dalam menasihati pun kita juga harus memikirkan perasaan mereka yang kita nasihati. Kakak hanya khawatir jika tadi kita langsung menegur kakek sapi, mungkin kakek sapi akan merasa tersinggung karena dinasihati oleh anak kecil seperti kita.” jelas Hitam kepada adiknya.

“Oh, begitu ya kak. Oke kak, maaf ya kalau adik tadi terburu-buru ingin menasihati kakek sapi, karena adik ingin menjalankan nasihat ayah dengan segera disaat ada kesempatan” jelas Putih dengan semangat. “Iya adikku, tidak apa-apa. Ayo kita pulang sekarang, ibu sudah menunggu kita di rumah” ajak Hitam kepada adiknya. “Oke deeh kak” seru Putih mengikuti kakaknya yang bijak ini. 

-Cerita ini berasal dari kisah Hasan dan Husein, anak dari Ali bin Abi Thalib, dimodifikasi seperlunya