Tuesday, 12 April 2011

Engkau Bernama Guru

Awalnya aku adalah selembar kertas putih...
Turun ke bumi dengan segala kerapuhanku...
Perlahan-lahan,ku jejakkan kaki di dunia ini...
Namun kusadari,aku tak sanggup sendiri...

Lalu aku terperanjat akan sebuah cahaya...
Ia bagaikan samudra,bagiku yang haus ilmu...
Ia bagaikan rembulan,bagiku yang butuh keteduhan...
Ia bagaikan mentari,bagiku yang terus tumbuh...

Apalah jadinya kami tanpamu...
Selembar kertas putih yang ternodai dunia...
Kini,hanya sebuah kalimat yang dapat terucap...
Terima kasih wahai malaikatku...guruku...


*baru aja tadi jam 4 dibuat atas permintaan Suaida buat tugas adiknya -__- hahaha
Tumben-tumbenan pula ide bisa ngalir dengan sedikit paksaan,hehehe

Sunday, 10 April 2011

Sedikit cerita tentang materi MalMing kemaren (Malam Mentoring)

Sedikit cerita tentang materi MalMing kemaren (Malam Mentoring)hehehe

Awalnya sih gara2 Muhammad Taufik(panggilannya adalah MT),seorang mahasiswa FIK UI memulai curhatannya kepada Ust.Chairul Samsi(sebut saja Kak Samsi). Dia bercerita bahwa dia kini jatuh cinta dengan salah seorang rekan dakwahnya di Organisasi fakultasnya tersebut. Pedekatenya udah mantep,akhwat itu udah istilahnya "deket" sama dia dan emang beneran deket sih.

Alasan dia mencintai akhwat tersebut pun dengan 4 patokan dalam hadist kalo ga salah yg kata "Ada 4 faktor tentang wanita yg paling utama yaitu wajahnya ,hartanya ,nasabnya dan agamanya. Pilihlah mereka dengan agama mereka". Kurang lebih seperti itu bunyinya
Dan menurut kawan saya ini,wanita itu udah memenuhi 3 dari 4 faktor diatas yaitu agamanya kuat wajahnya cantik dan juga kalo masalah harta karna wanita itu anak orang kaya. Kawan saya ini pun mengaku sudah bercerita kepada orangtuanya tentang kecenderungan dirinya terhadap wanita ini,namun dia sendiri tidak tahu bagaimana respon wanita ini sesungguhnya (namanya hati orang,ga ada yg tau isinya ya ga?)

Akhirnya,setelah menceritakan itu,ia pun bertanya kepada guru ngaji kami (Kak Samsi) tentang apa yang seharusnya dilakukan dan apakah itu sudah memenuhi syariat dengan cara pedekate dia.

Sejenak,gue terdiam (ngerasa agak mirip sih kondisinya) hahaha.
Lalu secara mengejutkan Kak Samsi berkata "Kalo kamu emang serius dan udah yakin datangi saja orang tua wanita itu dan ungkapkan perasaan kamu ke orang tua dia. Itu satu-satunya cara bagi kamu untuk memuliakan wanita itu. Tapi kamu juga harus mengutarakan niat kamu itu dulu kepada wanita tersebut".


Sontak,MT (dan juga saya) cengengesan dan kaget juga,hahaha MT pun berkata " Yaelah kak,saya belum sanggup kalo nikah sekarang" (saya juga kak :P).
Kak Samsi lalu berkata "Katakan saja 'Bapak,Ibu saya Muhammad Taufik dengan segala hormat ingin mengatakan bahwa saya mencintai anak bapak dan ibu. Saya mengatakan ini kepada bapak dan ibu sebagai bentuk rasa hormat saya kepada bapak dan ibu sebagai kedua orangtua dari wanita yang saya cintai. Seandainya kami memang ada jodoh,itu tergantung masa depan nanti dan sebisa mungkin pun saya ingin untuk bisa berjodoh. Tapi jikalau takdir berkata lain,anggap saja ini saya lakukan untuk menghormati keberadaan bapak ibu serta anak bapak.'. Selesaikan? Kamu menghargai wanita itu dan kamu pun menyalurkan rasa cintamu sesuai pada tempatnya ya ga?"

Layaknya anak kecil yang ketauan melakukan suatu kesalahan dan ditegur dengan baik,kami pun cengengesan kayak bocah ingusan,hahaha
Jujur,kaget bgt ngedenger jawaban dari Kak Samsi,tapi memang itu yang diwajibkan dan disyariatkan dalam ISLAM apabila seorang laki-laki mencintai seorang wanita. LAPORKAN kepada kedua orang tua wanita tersebut :D

MT yang cengengesan lalu berkata "waduh,saya mana berani kalo kayak gitu kak.. Saya aja dari keluarga yang kayak langit dan bumi kalo sama dia..Dia kaya, tapi saya? aduh..jauh kak.."

Kak Samsi lalu berkata lagi,"coba kamu buka surat An-Nur ayat 26" (ayoo,coba pada dibuka). "disitu sudah jelas kan? sekarang,kalo kamu masih punya banyak keraguan,mending kamu tengok diri kamu sendiri dulu,seperti apakah diri ini? baru kamu tentukan pilihan"

Saya sama MT terdiam (kali ini merenung) seberapa baiknya kah diri ini untuk dia?

Lalu Kak Samsi secara tiba2 lagi bertanya "emangnya kalo kamu lagi di deket wanita itu perasaannya kayak gimana?". Emang deh Kak Samsi ini beneran bikin jantungan dengan pertanyaan dan jawaban2nya. MT menjawab "Jujur,deg-degan kak. Malah bisa sampai salah tingkah" (Jujur,saya juga kak. Deg degan sampai-sampai ga bakal ngomong kecuali yang penting doang a.k.a diam seribu bahasa :P)

Kak Samsi cuma ketawa doang lalu berkata "hahaha,,baguslah kalo masih kayak gitu. Soalnya yang namanya cinta itu pasti akan menimbulkan getaran di hati setiap pecinta.
Contohnya saja Imam Syafi'i saat berjalan-jalan pada suatu hari tiba-tiba di tengah perjalanan ia berpapasan dengan wanita amat cantik rupanya. Dan setelah kejadian itu,beliau kehilangan hapalan Al-Qur'an nya beberapa juz. Seorang ulama besar saja seperti itu,apalagi kita?"


"Tapi perhatikan ini juga. Mau seberapa dalamnya cinta kalian kepada wanita itu,jangan sampai kalian jadi cinta yang menghamba. Bukankah sudah saya jelaskan di materi Tertib Cinta? (Insya Allah nanti akan saya tuliskan tentang materi itu di postingan selanjutnya). Dan jangan pula cinta kalian itu adalah cinta yang didasari karena nafsu. Cinta seperti itu tidaklah ada manfaatnya. Kita ambil contoh saja di Surat Yusuf ayat 26 (kalo ga salah inget) tentang bagaimana Nabi Yusuf alaihissalam memanage cintanya.
Tapi,jangan juga kalian memendam cinta. Itu akan membawa kesengsaraan bagi kalian".


Dan kami pun cengengesan lagi :D



Sepulangnya dari mentoring itu saya berfikir,"apakah saya sudah pantas untuknya? apakah dia juga memiliki perasaan yang sama? (kalo iya,pengen ngomong gitu ke ortunya niatnya sih,hehehe)"

Tapi,saya sendiri belum menceritakan ini kepada ortu saya sendiri karena ayah yang sedang di Malaysia dan ibu yang sedang sibuk dgn adik2 membuat saya harus menyimpan dahulu niat ini rapat-rapat di rumah..


Hari senin kemarin,saya ceritakan kejadian mentoring kemarin ke teman-teman yang tidak ikut (ini mentoring di luar sekolah,jadi hanya beberapa anak 21 saja yg ikut). Dan mereka berkata,"Haduh,kita mah ga sanggup kayak gitu,hahaha. Gimana kalo kita saling mengingatkan untuk berpuasa seandainya salah satu dari kita mengulas ini lagi? Atau kesadaran diri sendiri saja deh,hehe"

Hahaha,jawaban yang cukup bijak untuk ukuran bocah-bocah kayak kita,hehe
Dan begitulah kami sekarang :D

Thursday, 7 April 2011

Matahari dan Rembulan

Pagi hari.
Sang-Fajar mengintip bumi yang sedang menggeliat hidup kembali. Lalu ia berkata dalam hati "Apakah kali ini aku akan melihat Sang-Rembulan?". Namun pujaan hatinya kini sedang beranjak pergi. Kini,senyuman manusia serta geliat dunia yang sedang mengumpulkan ruhnya yang menghiburnya.

Siang hari.
Kini Sang-Fajar adalah Matahari. Manusia mengeluhkan teriknya suasana hati Sang-Mentari yang kian lama terus menerus menumpahkan kekesalannya selama ia berjalan. Segumpal awan putih nan teduh menghampiri manusia-manusia tersebut. Lalu,ia berkata kepada Sang-Mentari "Aku Aakan menemanimu". Namun Sang-Fajar hanya tersenyum kecut seraya bergumam "Aku ingin Rembulan yang menemaniku..."

Sore hari.
Kini Sang-Mentari adalah lembayung senja. Ia pun telah mencapai puncak lelahnya. Dan pada akhirnya,ia menentukan pilihannya seraya berkata "Kebahagiaannya bukanlah padaku... Melainkan pada apa yang ia cintai dan itupun mencintainya pula. Biarlah kini kutinggalkan jejal cintaku dalam selimut malam yang pekat agar hanya mereka yang mau mempergunakan akal mereka lah yang dapat mengambil hikmahnya...Selamat tinggal..." ucapnya lirih.

Malam hari.
Ketika masanya telah tiba,Sang-Lembayung Senja pun beranjak pergi menuju peraduannya. Di detik terakhir sebelum ia menghilang...Sang-Rembulan mulai menampakkan dirinya.

Setelah mengikrarkan janjinya,ia sangat enggan untuk menoleh sesaat saja demi menatap wajah yang ia cintai. Namun,nyanyian lembut Sang-Rembulan yang mulai mengantarkan makhluk-makhluk untuk pergi menuju alam mimpi membuatnya berhenti. Badai menghantam pendiriannya... "Bukankah aku telah berjanji untuk meninggalkannya? Bukankah aku tak lagi bisa tuk mewarnainya?" ucapnya ketir...

Sayup-sayup,ia mendengar namanya melayang di udara. "Tidak mungkin..." ucapnya. Dan ketika ia menoleh,ia melihat diri sang pujaannya. Kini ia telah mekar layaknya mawar putih yang tersenyum mesra dibalik tangkainya yang tajam. Ia melayangkan senyum terindahnya seperti wijaya kusuma yang memilih untuk melayangkan senyumnya kepada mereka yang berniat dan tetap.

Seperti terlepasnya ruh dari tubuh lemahnya,ia membeku... Tiada kata yang dapat ia ucapkan selain terdiam dan terpana.... "Mengapa aku melanggar janjiku sendiri?" gumamnya dalam hati.

Tanpa kata yang pasti ia pun pergi meninggalkan Sang-Rembulan di belakangnya... Sesulit apapun keadaannya,ia tidak ingin yang ia cintai merasa terbebani dengan belenggu rantai yang bernama persahabatan dalam cinta. Persahabatan memang berarti terjatuh dan bangkit dalam segala kebersamaan,namun tidak semua hal yang harus diketahui perlu diberitahukan. Tidak semua kebersamaan selalu bersama.

Setelah akhirnya cahaya yang ia miliki meredupkan dunia,kini Sang-Matahari berkata "Aku akan mencintaimu selama itu digariskan dalam ketetapan yang nyata...Aku pergi untuk mempelajari keikhlasan dan aku pergi bukan berarti aku membencimu...Ketahuilah bahwa degup di hati ini lebih kencang daripada berlarinya para kuda perang yang melaju di medan perang....Dirimu..sungguh suatu anugrah terindah yang pernah kulihat dalam hidupku hingga detik ini. Engkau mengajarkanku banyak hal,dan satu-satunya hal yang paling membekas dalam benakku adalah 'Jangan khawatir'. Seandainya kita memang akan bertemu nanti,biarlah akhir dari dunia yang membawa kita dan mengabadikan kita di akhirat kelak...Biarlah manusia mempelajari kisah cinta kita dan selamanya..."

Dan setelah gelap sempurna dunia,mereka terpisahkan kembali oleh rantai takdir Kehidupan yang membawa mereka ke tempat asal mereka...

( Tribute to Khalil Gibran.)

I made this dramatical poetry after I read his masterpiece named "Madame Rose Hanie".Really,I don't want to be some kind of "beggard of love" (halaaah,pengemis cinta) hahaha. Let love find its way to the one you really loved to. I don't want to do the same mistake like Rashid Bei Namaan did. I do love you,but I don't want to make you feel like a prisoner when I love you. Because if I make you feel like that,you'll be my Madame Rose Hanie too and I'll be Rashid Bei Namaan.

Maybe you are right.. I just have to try to "not worried" about this thing. If it has got outlined in Lauh Mahfudz,then we will be meet again someday :D

I'm not saying good bye to you,okay?
I just say "See you next time" :D

Pengakuan

Sang-Rembulan...
Tersenyumlah...
Langit lebih menantikanmu daripada manusia.
Semangatmu ditunggu oleh Bumi daripada manusia.
Dan setiap jejakmu lebih dinanti malaikat waktu daripada manusia.
Amat sayang...
Aku manusia...

Sunday, 3 April 2011

Titip rindu bagi dirinya...

Wahai angin...
Engkau adalah sebuah kebahagiaan bagi jiwa yang goyah
Sebuah nikmat terindah dalam dunia sesaat
Maukah kau membantuku?

Wahai deburan ombak yang bergulung...
Engkau adalah sebuah energi dari dua dunia
Sebuah kekuatan kekal nan sempurna
Maukah kau menolongku?

Wahai arus sungai yang lembut...
Engkau adalah kebahagiaan bagi mereka yang butuh ketenangan
Sebuah anugrah terindah dalam fase sekejap
Maukah kau membantuku?

Wahai angin...
Sampaikanlah rinduku ini padanya
Dirinya yang kucintai dan Allah pun mencintainya...

Wahai deburan ombak yang bergulung...
Perlihatkanlah kekuatan cintaku padanya...
Dirinya yang kucintai dan Allah pun meridhainya...

Wahai arus sungai yang lembut...
Kutitipkan kerinduan ini padamu...
Dirinya yang kucintai dan Allah pun telah mentakdirkan dirinya bagiku...

Amiin...

Wednesday, 30 March 2011

Inilah diriku

Untuk semua yang akan terjadi...
Sesuatu yang harus dihadapi...
Untuk yang telah menanti...
Sesuatu yang tersingkap dalam tabir mimpi

Air sungai mengalir menuju lautan biru
Sinar mentari menembus hijaunya dedaunan
Cahaya rembulan membasuh rona lelah Bumi
Gunung-gunung berapi memuntahkan isinya untuk kebaikan

Begitulah seharusnya kita...aku...
Sebagai seorang Muslim yang terus berpegang terhadap Al-Qur'an
Arahan panjang yang indah dan penuh dengan kepastian
Dibalik setiap tabir ghaib alam dunia...

Namun aku...
Aku tak seperti itu...
Sungguh penyesalan yang teramat sangat...
Tak bisa ku mempercayai apa yang ku hadapi...

Aku hanya...sesuatu yang takkan dianggap
Aku akan dilupakan seiring waktu pergi...
Sementara aku...Mungkinkah aku bisa seperti itu?
Karna selama detik telah terhabiskan,tak pernah kulakukan itu...dan tak pernah menimpa diriku...

Jiwa yang goyah

Apalah artinya dirimu bila tak ada yang bisa kau perbuat...
Kau menghibur dirimu dengan kebohongan...
Kau berusaha bertahan dari terpaan kenyataan...
Ya...Kau pun tersenyum...

Mungkinkah ini semua salah arti bagiku?
Semua kebahagiaan ini?
Apakah aku hanya seorang pemimpi dalam dunia yang tak bernyawa?
Mengharapkan sesuatu dan menggunakannya seperti orang yang bodoh...

Aku terlihat seperti apa di luar sana?
Apakah sebagai seseorang yang tak punya hati dengan ledakan yang terlepaskan?
Apakah sebagai seseorang yang tak punya rasa gentar dan sewenang-wenang?
Ataukah hanya sampah bagi orang-orang di sekitarku?

Kian hari menjelang,kian habis arahku...
Apakah aku harus menyerah terhadap waktu?
Apakah aku harus menyerah terhadap lingkunganku?
Tidak ! Aku tidak menginginkan hal itu...

Lama berselang setelah kesalahan diterima
Aku kini hanyalah anai-anai yang menari tertiup angin
Aku tak lagi berjiwa...
Dan debu mengantarkan kepergianku..sepi...