Aduh, kalo diliat-liat, kayaknya ga ada perkembangan materi bahasan nih. Padahal, sudah cukup banyak hal yang didapatkan, namun sulit sekali untuk menceritakannya kembali.
Coba kita bahas hal baru deh
Hm, berbicara tentang kehidupan, ternyata semua hal (bahkan hal paling sepele pun) yang kita kerjakan akan sangat menggambarkan siapa diri kita sebenarnya. Ga percaya? Coba saja cek dengan keadaan lingkungan sekitar dan dengan teman-teman di sekitar kalian. Bandingkan tebakan kalian tentang sifat mereka dan juga dengan sikap mereka. Mungkin ada yang merasa berbeda? Ya, itu pun tidak saya pungkiri, pasti akan ada perbedaan juga. Penyebabnya apa? Coba, dilihat, saat kalian mengamati teman tersebut, sedang berada di lingkungan yang seperti apa? Mungkin sepintas terlihat sepele, tapi justru disinilah letak perbedaan dan pendalaman akan pemahaman kita tentang "siapa sih teman kita itu?".
Konsep dasar dari memahami sebenarnya adalah dengan mengamati terus menerus. Amati, amati dan amati terus. Lalu, bandingkan antara segmen kehidupan yang satu dengan segmen kehidupan yang lainnya. Sejatinya, sikap mengamati ini justru seringkali diabaikan oleh sebagian besar manusia. Mengapa? Mungkin atas landasan argumen tentang "sekarang zaman keras bro, gue harus hidup dulu, baru memikirkan orang lain." maka kita melupakan hal-hal penting yang terjadi antara kita dengan keluarga kita atau dengan teman kita ataupun dengan Tuhan kita.
Sama hal nya dengan mendengar. Hal dasar lainnya yang harus dimiliki manusia adalah kemampuan untuk mendengarkan. Mendengarkan dalam arti fokus, bukan hanya asal pasang kuping saja.
We have to be a good listener. Mengapa dalam bahasa Inggris pun kata "mendengar" memiliki dua kosakata, yaitu "listen" dan "hear"? Karena tadi, listen itu fokus, dan hear itu hanya asal lewat saja.
Lalu, apa sih keuntungan dari mendengarkan dan mengamati itu?
Sejatinya, antara manusia dengan binatang ada beberapa kemampuan yang sama. Jika pada hewan disebut insting, yaitu kemampuan untuk membaca situasi dan menyimpulkan dengan cepat serta kemampuan untuk menilai keadaan dan individu, maka pada manusia kemampuan itu disebut sebagai "intuisi".
Dengan sering mendengarkan dan mengamati, kita sebenarnya melatih hati kita untuk lebih peka dengan lingkungan sekitarnya. Kepekaan inilah, yang akan sangat bermanfaat bagi kita pribadi. Mengapa, karena dengan hati yang bersih dan "peka", kita akan dengan sangat mudah menilai, apakah hal yang kita lakukan ini baik atau tidak. Bahasa gaulnya itu dibilang "sensitif". Ga ada masalah untuk dibilang sensitif. Justru seharusnya kita bangga. Bangga karena kemampuan ini hanya dimiliki oleh sedikiiiiiit sekali manusia yang hidup di Bumi.
Intuisi akan sangat membantu kita dalam berbagai aspek kehidupan, bahkan hingga memilih teman pun dapat dengan mudah dilakukan jika kita memiliki kemampuan intuisi yang sangat baik.
Jadi kawan-kawan sekalian, mari kita coba bersama-sama untuk melatih kepekaan kita terhadap lingkungan dan terhadap masyarakat di sekitar kita. Karena kita, generasi muda ini adalah calon pemimpin masa depan. Dan pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki kemampuan intuisi yang baik pula. Apa jadinya kalau pemimpin lambat dalam mengambil keputusan? Hayoo, bagaimana coba?? Maka sekali lagi, mari kita asah kemampuan intuisi kita agar kita lebih berdaya guna di masyarakat sekitar kita.
Thursday, 15 November 2012
Wednesday, 14 November 2012
Oh...
Jadi seperti ini rasanya...
Cinta yang tumbuh dari ketidaksengajaan...
Berasal dari sebuah kebaikan diantara kebaikan...
Oh...
Jadi seperti ini rasanya...
Cinta yang hadir dalam gemerlap kata-kata penuh makna...
Berasal dari kepedulian diantara pengasingan...
Oh...
Jadi seperti ini rasanya...
Cinta yang hadir kepada makhluk yang diciptakan untuk dicinta...
Berasal dari tutur kata dalam balutan kasih sayang...
Namun cinta adalah tindakan...
Kau telah melakukannya dan aku pun ingin melakukan hal yang sama...
Namun, aku tidak bisa membawakannya pantas dengan keadaan saat ini...
Ya Rabbi...
Kuatkan hamba...
Pantaskan hamba...
Ya Rabbi...
Kuatkan hamba...
Pantaskan hamba...
Izinkan hamba untuk memuliakan dia yang Engkau ciptakan untuk dicintai atas ridha-Mu...
Sungguh, waktu yang Engkau ciptakan semakin menjadi ilusi bagi hamba...
Dan ilusi ini membawa hamba akan angan-angan hampa dalam bunga mimpi...
Ampuni hamba...
Kuatkan hamba Ya Rabb...
Engkau lah yang mengatakan bahwa tiada kebaikan melainkan dibalas dengan kebaikan...
Maka, kebaikan apa lagi yang dapat hamba berikan untuknya setelah sekian banyak kebaikannya yang tercurahkan kepada hamba?
Izinkan hamba untuk memuliakannya...
Aamiin...
Jadi seperti ini rasanya...
Cinta yang tumbuh dari ketidaksengajaan...
Berasal dari sebuah kebaikan diantara kebaikan...
Oh...
Jadi seperti ini rasanya...
Cinta yang hadir dalam gemerlap kata-kata penuh makna...
Berasal dari kepedulian diantara pengasingan...
Oh...
Jadi seperti ini rasanya...
Cinta yang hadir kepada makhluk yang diciptakan untuk dicinta...
Berasal dari tutur kata dalam balutan kasih sayang...
Namun cinta adalah tindakan...
Kau telah melakukannya dan aku pun ingin melakukan hal yang sama...
Namun, aku tidak bisa membawakannya pantas dengan keadaan saat ini...
Ya Rabbi...
Kuatkan hamba...
Pantaskan hamba...
Ya Rabbi...
Kuatkan hamba...
Pantaskan hamba...
Izinkan hamba untuk memuliakan dia yang Engkau ciptakan untuk dicintai atas ridha-Mu...
Sungguh, waktu yang Engkau ciptakan semakin menjadi ilusi bagi hamba...
Dan ilusi ini membawa hamba akan angan-angan hampa dalam bunga mimpi...
Ampuni hamba...
Kuatkan hamba Ya Rabb...
Engkau lah yang mengatakan bahwa tiada kebaikan melainkan dibalas dengan kebaikan...
Maka, kebaikan apa lagi yang dapat hamba berikan untuknya setelah sekian banyak kebaikannya yang tercurahkan kepada hamba?
Izinkan hamba untuk memuliakannya...
Aamiin...
Thursday, 8 November 2012
Tuesday, 23 October 2012
Aku bertanya-tanya...
Ketika nafas ini habis suatu hari nanti...
Akankah awan menebal dan menghitam merasakan kesedihan?
Akankah Bumi berguncang merasakan kehilangan?
Akankah lautan bergejolak merasakan kepedihan?
Akankah gunung-gunung bergemuruh merasakan kekhawatiran?
Akankah burung-burung menyanyikan lagu damai perpisahan?
Akankah hutan menundukkan wajahnya bersama dengan perginya ruh ini?
Akankah mereka menangis di sampingku dan di sepanjang perjalananku menuju rumah terakhirku nanti?
Ataukah...
Awan tetap tersenyum ceria layaknya tidak terjadi apa-apa...
Bumi tetaplah tenang dan damai seperti tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan...
Lautan justru lembut menderu...
Gunung-gunung bergetar pelan dan ramai...
Burung-burung tetaplah berkicau seperti biasanya...
Hutan tetap menegakkan wajahnya ke langit biru...
Dan mereka tertawa...
Celakalah aku!
Ketika nafas ini habis suatu hari nanti...
Akankah awan menebal dan menghitam merasakan kesedihan?
Akankah Bumi berguncang merasakan kehilangan?
Akankah lautan bergejolak merasakan kepedihan?
Akankah gunung-gunung bergemuruh merasakan kekhawatiran?
Akankah burung-burung menyanyikan lagu damai perpisahan?
Akankah hutan menundukkan wajahnya bersama dengan perginya ruh ini?
Akankah mereka menangis di sampingku dan di sepanjang perjalananku menuju rumah terakhirku nanti?
Ataukah...
Awan tetap tersenyum ceria layaknya tidak terjadi apa-apa...
Bumi tetaplah tenang dan damai seperti tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan...
Lautan justru lembut menderu...
Gunung-gunung bergetar pelan dan ramai...
Burung-burung tetaplah berkicau seperti biasanya...
Hutan tetap menegakkan wajahnya ke langit biru...
Dan mereka tertawa...
Celakalah aku!
Friday, 19 October 2012
Maaf...
Terkadang ada saja beberapa kata yang sebenarnya harmonis, namun pada saat-saat tertentu ketika mereka dirangkai satu membuat lidahku kelu...
Seperti anomali air, yang membuatnya mengapung di atas yang lainnya...
Anggap saja aku melalaikan amanah ku...
Walaupun memang kenyataannya seperti itu...
Kenyataan yang entah kenapa tidak mau kau akui...
Hibur aku dengan kejujuran...
Bukan dengan kata-kata yang ingin dan sebaiknya aku dengar...
Karena kejujuran itu yang mengunci aku di seberang jalan...
Aku butuh amarah dari mu...
Sebuah ketegasan yang mengatakan bahwa inilah keadaannya dan marilah kita berhenti sejenak...
Bukan sebuah senyuman yang mengatakan mari kita terus melangkah...
Aku hanya ingin berhenti sejenak...
Ingin ku ketahui apa yang terjadi...
Namun lagi-lagi kau tersenyum dan membuatnya menjadi abu-abu...
Kita memasuki ini secara bersama-sama bukan?
Kau dan aku?
Aku hanya ingin memastikan ingatanku dan ingatanmu...
Ya, seingatku dulu kita melangkah bersama memasuki amanah ini...
Hingga akhirnya beberapa hal terjadi dan kau mulai sedikit menjauhkan langkahmu dariku
Kau mulai menjauh dan sayangnya, kita tak lagi saling memahami...
Aku membiarkanmu melangkah disana, karena kau selalu berkata bahwa tidak akan ada masalah yang berarti...
Namun tengoklah kenyataannya...
Tolong pahami...
Aku melihat dunia yang sedang kita jalani ini sebagai sesuatu yang sakit...
Tak bisakah kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri?
Aku ingin memperbaiki itu dan kau memahaminya sedangkan mereka tidak!
Aku melakukan ini demi mereka namun apa yang terjadi?
Keparat intelektual itu mulau meracau tentang kekuasaan dan wanita...
Dan wanita yang dimaksud itu adalah kau!
Pemimpin macam apa yang bisa bisanya tidak peduli dengan keadaan seperti itu?
Lantas sekarang siapa yang menjadi prioritas?
Karena aku memilihmu...
Tapi coba lihat...
Apa yang kudapatkan?
Sementara aku berusaha melindungimu, kau justru membiarkan dirimu terbuka kepada bajingan intelektual bermuka dua itu!
Lantas, wajarkah bila akhirnya aku merasa lelah?
Wajarkah bila akhirnya kini, aku ingin berhenti selamanya?
Aku lelah...pahamilah bahwa aku pun memiliki kereta yang harus ku kejar...
Dunia mungkin akan berubah beberapa tahun lagi...
Jika kau sadari ini dan paham...
Aku akan menunggumu...
Disini, di tempat kita datang dan terpilih pada hari yang sama milik kita berdua...
Terkadang ada saja beberapa kata yang sebenarnya harmonis, namun pada saat-saat tertentu ketika mereka dirangkai satu membuat lidahku kelu...
Seperti anomali air, yang membuatnya mengapung di atas yang lainnya...
Anggap saja aku melalaikan amanah ku...
Walaupun memang kenyataannya seperti itu...
Kenyataan yang entah kenapa tidak mau kau akui...
Hibur aku dengan kejujuran...
Bukan dengan kata-kata yang ingin dan sebaiknya aku dengar...
Karena kejujuran itu yang mengunci aku di seberang jalan...
Aku butuh amarah dari mu...
Sebuah ketegasan yang mengatakan bahwa inilah keadaannya dan marilah kita berhenti sejenak...
Bukan sebuah senyuman yang mengatakan mari kita terus melangkah...
Aku hanya ingin berhenti sejenak...
Ingin ku ketahui apa yang terjadi...
Namun lagi-lagi kau tersenyum dan membuatnya menjadi abu-abu...
Kita memasuki ini secara bersama-sama bukan?
Kau dan aku?
Aku hanya ingin memastikan ingatanku dan ingatanmu...
Ya, seingatku dulu kita melangkah bersama memasuki amanah ini...
Hingga akhirnya beberapa hal terjadi dan kau mulai sedikit menjauhkan langkahmu dariku
Kau mulai menjauh dan sayangnya, kita tak lagi saling memahami...
Aku membiarkanmu melangkah disana, karena kau selalu berkata bahwa tidak akan ada masalah yang berarti...
Namun tengoklah kenyataannya...
Tolong pahami...
Aku melihat dunia yang sedang kita jalani ini sebagai sesuatu yang sakit...
Tak bisakah kau melihatnya dengan mata kepalamu sendiri?
Aku ingin memperbaiki itu dan kau memahaminya sedangkan mereka tidak!
Aku melakukan ini demi mereka namun apa yang terjadi?
Keparat intelektual itu mulau meracau tentang kekuasaan dan wanita...
Dan wanita yang dimaksud itu adalah kau!
Pemimpin macam apa yang bisa bisanya tidak peduli dengan keadaan seperti itu?
Lantas sekarang siapa yang menjadi prioritas?
Karena aku memilihmu...
Tapi coba lihat...
Apa yang kudapatkan?
Sementara aku berusaha melindungimu, kau justru membiarkan dirimu terbuka kepada bajingan intelektual bermuka dua itu!
Lantas, wajarkah bila akhirnya aku merasa lelah?
Wajarkah bila akhirnya kini, aku ingin berhenti selamanya?
Aku lelah...pahamilah bahwa aku pun memiliki kereta yang harus ku kejar...
Dunia mungkin akan berubah beberapa tahun lagi...
Jika kau sadari ini dan paham...
Aku akan menunggumu...
Disini, di tempat kita datang dan terpilih pada hari yang sama milik kita berdua...
Wednesday, 17 October 2012
penyakit hati
Penyakit hati
HATI (bahasa Arab
Qalbu) adalah bagian yang sangat penting daripada manusia. Jika hati kita baik,
maka baik pula seluruh amal kita:
Rasulullah saw.
bersabda, “….Bahwa dalam diri setiap manusia terdapat segumpal daging, apabila
ia baik maka baik pula seluruh amalnya, dan apabila ia itu rusak maka rusak
pula seluruh perbuatannya. Gumpalan daging itu adalah hati.” (HR Imam
Al-Bukhari)
Sebaliknya, orang
yang dalam hatinya ada penyakit, sulit menerima kebenaran dan akan mati dalam
keadaan kafir.
“Orang-orang yang di
dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran
mereka, disamping kekafirannya yang telah ada dan mereka mati dalam keadaan
kafir.” [At Taubah 125]
Oleh karena itu
penyakit hati jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik karena bisa
mengakibatkan kesengsaraan di neraka yang abadi.
Kita perlu mengenal
beberapa penyakit hati yang berbahaya serta bagaimana cara menyembuhkannya.
Sombong
Sering orang karena
jabatan, kekayaan, atau pun kepintaran akhirnya menjadi sombong dan menganggap
rendah orang lain. Bahkan Fir’aun yang takabbur sampai-sampai menganggap rendah
Allah dan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kenyataannya Fir’aun adalah manusia
yang akhirnya bisa mati karena tenggelam di laut.
Allah melarang kita
untuk menjadi sombong:
“Janganlah kamu
berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali
tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi
gunung.” [Al Israa’ 37]
“Janganlah kamu
memalingkan mukamu dari manusia karena sombong dan janganlah kamu berjalan di
muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong lagi membanggakan diri.” [Luqman 18]
Allah menyediakan
neraka jahannam bagi orang yang sombong:
“Masuklah kamu ke
pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah
seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong .” [Al Mu’min 76]
Kita tidak boleh
sombong karena saat kita lahir kita tidak punya kekuasaan apa-apa. Kita tidak
punya kekayaan apa-apa. Bahkan pakaian pun tidak. Kecerdasan pun kita tidak
punya. Namun karena kasih-sayang orang tua-lah kita akhirnya jadi dewasa.
Begitu pula saat kita
mati, segala jabatan dan kekayaan kita lepas dari kita. Kita dikubur dalam
lubang yang sempit dengan pakaian seadanya yang nanti akan lapuk dimakan zaman.
Imam Al Ghazali dalam
kitab Ihya’ “Uluumuddiin menyatakan bahwa manusia janganlah sombong karena
sesungguhnya manusia diciptakan dari air mani yang hina dan dari tempat yang
sama dengan tempat keluarnya kotoran.
Bukankah Allah
mengatakan pada kita bahwa kita diciptakan dari air mani yang hina:
“Bukankah Kami
menciptakan kamu dari air yang hina?” [Al Mursalaat 20]
Saat hidup pun kita
membawa beberapa kilogram kotoran di badan kita. Jadi bagaimana mungkin kita
masih bersikap sombong?
‘Ujub (Kagum akan
diri sendiri)
Ini mirip dengan
sombong. Kita merasa bangga atau kagum akan diri kita sendiri. Padahal
seharusnya kita tahu bahwa semua nikmat yang kita dapat itu berasal dari Allah.
Jika kita mendapat
keberhasilan atau pujian dari orang, janganlah ‘ujub. Sebaliknya ucapkan
“Alhamdulillah” karena segala puji itu hanya untuk Allah.
Iri dan Dengki
Allah melarang kita
iri pada yang lain karena rezeki yang mereka dapat itu sesuai dengan usaha
mereka dan juga sudah jadi ketentuan Allah.
“Dan janganlah kamu
iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih
banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian
dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian
dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari
karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” [An Nisaa’ 32]
Iri hanya boleh dalam
2 hal. Yaitu dalam hal bersedekah dan ilmu.
Tidak ada iri hati
kecuali terhadap dua perkara, yakni seorang yang diberi Allah harta lalu dia
belanjakan pada jalan yang benar, dan seorang diberi Allah ilmu dan kebijaksaan
lalu dia melaksanakan dan mengajarkannya. (HR. Bukhari) [HR Bukhari]
Jika kita mengagumi
milik orang lain, agar terhindar dari iri hendaknya mendoakan agar yang
bersangkutan dilimpahi berkah.
Apabila seorang
melihat dirinya, harta miliknya atau saudaranya sesuatu yang menarik hatinya
(dikaguminya) maka hendaklah dia mendoakannya dengan limpahan barokah.
Sesungguhnya pengaruh iri adalah benar. (HR. Abu Ya’la)
Dengki lebih parah
dari iri. Orang yang dengki ini merasa susah jika melihat orang lain senang.
Dan merasa senang jika orang lain susah. Tak jarang dia berusaha mencelakakan
orang yang dia dengki baik dengan lisan, tulisan, atau pun perbuatan. Oleh
karena itu Allah menyuruh kita berlindung dari kejahatan orang yang dengki:
“Dan dari kejahatan
pendengki bila ia dengki.” [Al Falaq 5]
Kedengkian bisa
menghancurkan pahala-pahala kita.
Waspadalah terhadap
hasud (iri dan dengki), sesungguhnya hasud mengikis pahala-pahala
sebagaimana
api memakan kayu. (HR. Abu Dawud)
Subscribe to:
Posts (Atom)