Aku berjalan dengan langkah lelah menuju kamarku...
Aku hamparkan tasku dan kurebahkan tubuhku di peraduanku...
Sejenak aku memandangi langit-langit ruangan itu...
Kuhela nafasku dan kupejamkan mataku..mengenang apa-apa yang telah berlalu...
Beberapa kali aku tertawa mengingat kejadian-kejadian yang telah lalu...
Namun kali ini berbeda...
Sebuah kejadian dimana aku tidak akan pernah bisa menghapusnya dari memoriku...
Semua tentang kamu...
Seperti anak kecil yang melihat sesuatu yang nampak sama seperti yang biasa ia lihat...
Tidak ada sesuatu yang menarik kala itu di mataku...
Bagiku kau layaknya bunga yang biasa bermekaran di kebun hatiku...
Dan aku terbiasa tuk melihatnya hingga tak ada yang membuatku terkesan...
Waktu berjalan hingga ia mengatakan sesuatu kepadaku...
Salah satu bunga itu telah merubah dirinya dan menutupi dirinya...
Aku tak terlalu menanggapinya dan kuanggap itu hanyalah angin lalu...
Hingga kusadari bahwa kau lah yang dimaksud...
Kau tahu? Aku tidak pernah merasakan sesuatu seperti ini sebelumnya...
Seperti sesuatu yang terpendam memaksakan dirinya untuk keluar...
Aku pun tidak terlalu bisa menggambarkan keadaanku saat itu...
Yang kutahu, setiap aku mengingat namamu, aku hanya ingin melakukan sesuatu untukmu...
Waktu pun terus berjalan...
Entah mengapa aku berusaha tuk mengingkarinya...
Namun lihatlah, ia terus tumbuh tanpa perlu kusiram dan kujaga...
Ia tumbuh dan tumbuh hingga akhirnya mekarlah sudah menjadi Wijayakusuma...
Dirimu...
Tanpa kusadari, banyak perubahan dalam diriku selama aku mengenalmu...
Dan semakin banyak lagi ketika kusadari bahwa aku mencintaimu...
Hingga akhirnya, aku tuliskan semuanya dalam kata-kata...
Aku tuliskan ini semua hanya untukku...
Aku tuliskan agar aku merasa telah menyampaikan seluruh isi hatiku padamu...
Namun kata adalah terbatas...
Tanpa ekspresi...tanpa emosi...
Aku selalu terpana melihat kecantikan Bulan purnama...
Ia putih dan bersih...
Dan selalu membawa ketenangan tiap kali aku melihatnya...
Hingga aku mengibaratkan dirimu layaknya Bulan purnama di langit malam...
Dan aku teringat akan sebuah dongeng dikala aku masi kecil dulu...
Sebuah dongen tentang Matahari dan Rembulan yang sangat ingin untuk bisa bersama...
Namun keadaan membuat mereka terpisah satu sama lainnya...
Dan aku pun mengibaratkan diriku seperti Matahari...
Hari-hari terus berlalu...
Dan aku menyimpan syairku dalam kertas hingga kutuangkan ia di tempat ini...
Bulan demi bulan pun berlalu...
Dan aku semakin yakin bahwa sepertinya hanya aku yang memiliki perasaan ini..kau tidak...
Hingga suatu hari, seseorang menegurku...
Ya, dia adalah teman dekatmu...
Ia menegurku atas syairku...
Dan kupikir ini adalah waktunya bagiku untuk berhenti...
Dan kusimpan sudah semua yang telah kutulis untukmu...
Kutaruh dalam sebuah kotak kecil usang di lemari kecilku...
Sempat ku berfikir untuk menghanguskan semuanya...
Ya...pilihan yang seharusnya kuambil dari sejak awal aku tahu...
Banyak yang kulalui semenjak hari itu berakhir...
Entahlah...
Berusaha untuk kulupakan namun tak ada yang bisa kulakukan...
Antara iya dan tidak...
Hingga ternyata kita semakin dekat...
Dan tiba saatnya kita berpisah dengan seluruh teman seperjuangan...
Beberapa hari sebelum itu, kuberikan engkau sebuah surat...
Kusembunyikan dan kuharap kau membukanya tepat waktu...
Namun kau membuka sebelum waktunya...
Dan kita kembali lagi dalam masa yang sama...
Aku benar-benar merasa ingin menghapus semua sisa kenangan...
Semuanya sekalipun itu harus melepaskan tanganku ataupun menghancurkan kakiku...
Namun pada suatu hari, kau memberikanku sesuatu...
Sebuah buku...
Sebuah buku dengan corak yang kucintai amat sangat...
Dan juga secarik kertas yang terselip di halaman depan...
Aku tidak tahu haruskah aku senang ataukah sedih...
Aku bukanlah seseorang yang terlalu yakin dengan diriku sendiri...
Dan kucoba tuk memberanikan diri...
Perlahan, kubuka kertas itu dan kubaca...
Seperti seorang tentara yang terkepung oleh musuh dari segala arah...dan ditikam...
Itu yang kurasakan ketika aku membaca surat darimu...
Sederhana...
Hanya sebuah syair...
Kucoba tuk mengingat kembali apa yang sedang kubaca...
Aku seperti mengenalinya...
Kuputar ulang ingatanku...
Ah! Awalannya merupakan syair yang dahulu kurangkai...
Aku hanya bisa terdiam dan mematung...
Aku tak kuasa tuk melanjutkannya...
Seperti merobek kembali luka yang hampir sembuh...
Aku benar-benar tak berdaya dibuatnya...
Kau mengiyakan perumpamaan yang aku buat dahulu...
Dan kau melanjutkannya dengan bahasamu sendiri...
Lalu apalagi yang dapat kupikirkan selain sebuah tanda?
Bahwa kau pun memiliki hal yang sama seperti aku kepadamu...
Namun waktu terus berlalu...
Semakin aku berusaha mengenalmu dan mencintaimu...
Semakin aku merasa tidak pantas di hadapanmu...
Kau lebih baik tidak pernah bertemu denganku...
Aku bangkit dari peraduanku dan kubersihkan diriku...
Aku bersimpuh di hadapan-Nya...
Dan kukatakan semua yang ingin kukatakan...
Harapanku...dan kesedihanku...
Aku selalu berdo'a "Seandainya ia yang terbaik bagi hamba, dekatkanlah... Namun jika tidak, maka jauhkanlah hamba Ya Rabb..."
Namun aku hanya mendapatkan abu-abu...
Dan juga tetes air mata yang sia-sia...
Maka kini,izinkanlah aku mengikis namamu dari taman hatiku...
Untuk membebaskan hatiku dan juga hatimu...
Bukankah aku ini hanyalah bayangan bagimu?
Tidak ada...
Wednesday, 31 August 2011
Monday, 29 August 2011
Untukmu, Kekasihku...
Aku terdiam dalam suatu masa di sebuah malam yang tenang...
Rembulan begitu indahnya menemaniku dalam keadaan penuh...
Langit malam yang terang dan bintang yang bertaburan...
Seakan berusaha menghibur jenuhnya hati ini akan siang hari...
Aku coba gerakkan tanganku tuk melukis di udara...
Ku coba dan terus ku coba tuk melukiskan wajahmu...
Aku pejamkan mataku dan kuhela nafasku dalam...
Aku mencoba tuk mengingat kejadian yang kita lewati bersama...
Tapi, tunggu dulu...
Apa yang terjadi padaku?
Tanganku kaku...
Dan bahkan aku tidak dapat mengingat bagaimana senyummu itu indah menghiasi wajah cantikmu...
Wahai kekasihku...
Seandainya kau mengetahui hal ini, apa yang akan kau lakukan kepadaku?
Seakan aku tidak lagi menaruh perasaan ini kepadamu...
Dan aku bukanlah seorang yang mampu mengatakannya secara jelas...
Wahai kekasihku...
Apakah ini yang bernama rindu?
Ketika aku mengingatmu,sesak sudah dadaku...
Dan degup jantung yang tak teratur...
Wahai kekasihku...
Percayakah engkau akan cintaku kepadamu?
Maka izinkanlah aku tuk mengikis namamu...
Mengikisnya dari hatiku...
Biarkanlah hanya Allah yang mengetahui seberapa besarnya cintaku kepadamu...
Dan disini aku akan berusaha menjadikan hatiku tawar kembali seperti sedia kala...
Seperti saat sebelum Allah mempertemukan kita...
Namun izinkanlah aku tuk menyandingkan namamu di setiap do'aku...
Wahai kekasihku...
Jika waktunya telah datang, aku akan datang kepadamu...
Dengan segala hal yang kupegang teguh...
Dan dengan niat untuk memuliakanmu di sisiku...
Izinkanlah kali ini aku mencintaimu dengan sederhana...
Dengan segala keterbatasan antara kita...
Aku ingin membebaskan hatiku dari ikatan yang tak terlihat...
Begitu pula denganmu...Bebaslah seperti sedia kala...
Dan begitulah malam yang terang itu berakhir...
Aku tertidur disamping do'aku dan makam dari hatiku...
Aku melihatmu...berada di sampingku kala itu...
Walau dalam mimpi, harapan itu tetap tumbuh...
Rembulan begitu indahnya menemaniku dalam keadaan penuh...
Langit malam yang terang dan bintang yang bertaburan...
Seakan berusaha menghibur jenuhnya hati ini akan siang hari...
Aku coba gerakkan tanganku tuk melukis di udara...
Ku coba dan terus ku coba tuk melukiskan wajahmu...
Aku pejamkan mataku dan kuhela nafasku dalam...
Aku mencoba tuk mengingat kejadian yang kita lewati bersama...
Tapi, tunggu dulu...
Apa yang terjadi padaku?
Tanganku kaku...
Dan bahkan aku tidak dapat mengingat bagaimana senyummu itu indah menghiasi wajah cantikmu...
Wahai kekasihku...
Seandainya kau mengetahui hal ini, apa yang akan kau lakukan kepadaku?
Seakan aku tidak lagi menaruh perasaan ini kepadamu...
Dan aku bukanlah seorang yang mampu mengatakannya secara jelas...
Wahai kekasihku...
Apakah ini yang bernama rindu?
Ketika aku mengingatmu,sesak sudah dadaku...
Dan degup jantung yang tak teratur...
Wahai kekasihku...
Percayakah engkau akan cintaku kepadamu?
Maka izinkanlah aku tuk mengikis namamu...
Mengikisnya dari hatiku...
Biarkanlah hanya Allah yang mengetahui seberapa besarnya cintaku kepadamu...
Dan disini aku akan berusaha menjadikan hatiku tawar kembali seperti sedia kala...
Seperti saat sebelum Allah mempertemukan kita...
Namun izinkanlah aku tuk menyandingkan namamu di setiap do'aku...
Wahai kekasihku...
Jika waktunya telah datang, aku akan datang kepadamu...
Dengan segala hal yang kupegang teguh...
Dan dengan niat untuk memuliakanmu di sisiku...
Izinkanlah kali ini aku mencintaimu dengan sederhana...
Dengan segala keterbatasan antara kita...
Aku ingin membebaskan hatiku dari ikatan yang tak terlihat...
Begitu pula denganmu...Bebaslah seperti sedia kala...
Dan begitulah malam yang terang itu berakhir...
Aku tertidur disamping do'aku dan makam dari hatiku...
Aku melihatmu...berada di sampingku kala itu...
Walau dalam mimpi, harapan itu tetap tumbuh...
Tuesday, 5 July 2011
Sajak #1
Kerinduanku seperti tumbuhan di padang pasir yang merindukan hujan menyirami setiap jengkal dari tubuhnya...
Setiap detik yang kuhabiskan di depan penaku,tetap tak dapat kutemukan tafsir terindah untuk dirimu,wahai Kekasihku...
Kerinduanku adalah benih yang kutanam dalam taman dimana kita pertama kali berjumpa...Aku yakin ia telah menjadi bunga yang cantik sekarang...
aku telah terjebak dalam pikiranku yang berusaha menafsirkan tentang cinta...Dan kusadari,semua kembali kepadamu...
Pagi kembali menyambutku dengan kecupan hangat di keningku...Membawaku kembali pada kenyataan bahwa aku mencintaimu...
Sambutlah uluran tanganku dan berdirilah...Kau harus berjuang untuk apa yang kau impikan...
Namun aku takut bahwa aku mengimpikan dirimu...Terkadang aku mengecilkan hakikat keberadaanku sendiri...
Aku sembunyikan luka yang tercipta tatkala kita terpisahkan ruang...Aku pikir dengan suaramu saja itu akan mengembalikannya ke sedia kala...
Waktu berjalan lambat ketika aku telah mengungkapkan rahasia hatiku kepadamu...Lalu apalagi yang dapat kulakukan? Terkadang air matapun tak kuasa aku dapat menahannya...
Sajak adalah kuburan bagi para penyair...Mereka yang merindukan cintanya,dan amat sayang dunia membunuh mereka secara perlahan dalam kesendiriannya...
Aku takut jika ternyata aku dianggap menduakan Tuhanku...Karena sungguh,dirimu selalu tergambar di alam bawah sadarku...
Dan setiap pecinta adalah pengembara...
Aku selalu berharap bahwa engkau adalah tempat peristirahatan terakhirku...Ketika akhirnya ajal menghampiriku dalam wajah bahagia...
Apalah artinya harapan...Aku takut dunia kembali menertawakanku dalam pekat malam...
Dengarkanlah nyanyian musim semi...Riang gembira,seperti ketika hatiku menyambutmu pulang...
Setelah musim dingin yang putih dan membekukan itu mengurungku,aku tahu bahwa engkau kembali dengan kehangatan yang kubutuhkan...
Seringkali aku lupa bahwa kita belum diikat atas nama agama...
Tetapi jauh di dasar hatiku,pemantik semangatku untuk maju adalah untuk memuliakanmu di sampingku...
Cinta seringkali membuatku berkhayal tentang masa depan kita...
Entah mengapa,hanya hal-hal buruk yang selalu terbayangkan...Aku hanya tidak mau terlalu berharap...
Harapan yang kau junjung setinggi langit akan membantingmu ke sebuah "Danau Kefanaan" ketika tidak mampu kita capai...
Mungkin itulah pengertian dari cinta yang tak bertemu...
Apalah gunanya pantai yang indah dengan deburan ombak yang memanjakan telingaku dan cahaya matahari yang membasuh mataku dengan lembut jikalau aku hanya sendiri disana...
Apalah gunanya terumbu karang dengan warnanya yang mempesona disertai ikan-ikan kecil di sekitarnya yang malu-malu tuk keluar jika lagi-lagi aku hanya sendiri disana...
Aku selalu berfikir bahwa waktu berjalan sangat cepat...Namun ketika aku menemukanmu,sepertinya aku salah...
Aku ingin mengetahui apa yang tersembunyi di balik dadamu...Adakah ia berdegup ketika terlintas namaku di matamu?
Aku tidak percaya dengan logika yang selama ini kuagungkan...Dalam cinta,ia membuatku sakit hati...
Cinta selalu disamakan dengan Mawar Merah yang bermekaran indah...Namun aku menganggapmu sebagai Wijayakusuma...
Aku sangat takut untuk membuka pintu pelataran hatimu...Mungkinkah ia sudah penuh sesak?
Aku selalu berfikir bahwa aku tidak pantas dengan semua manusia yang aku cintai...Salahkah jika aku seperti itu?
Karena yang ku ketahui,aku bukanlah satu-satunya...Namun mengapa aku memilihmu?
Aku pernah mendengar syair tua bahwa cinta tidak butuh alasan...
Tetapi sepanjang perjalananku,aku mencintai karena itu kebutuhanku...
Bolehkah aku mengakui sesuatu?
Bukanlah rambut panjangmu itu yang meluaskan pandanganku...Aku pun lupa seperti apa rambutmu itu...
Bukanlah mata indahmu yang melumpuhkanku dalam satu kedipan waktu...
Bukanlah pipi merahmu yang membuatku lemah tak berdaya...
Bukanlah hidung manismu yang membuatku diam membisu terpana...
Bukanlah bibir merahmu yang menjadikan pandanganku tak berpaling pada yang lainnya...
Bukanlah jari-jemari lentikmu yang menyentuh hatiku yang terdalam...
Bukanlah tubuh indah semapaimu yang menciptakan decak kagum dalam benakku...
Bukan pula kaki jenjangmu yang membuatku terpaku di Bumi ketika melihatmu...
Hanya hatimu yang membuatku seolah pernah bertemu denganmu dan membuatku merasa kita terpaut satu...
Setiap detik yang kuhabiskan di depan penaku,tetap tak dapat kutemukan tafsir terindah untuk dirimu,wahai Kekasihku...
Kerinduanku adalah benih yang kutanam dalam taman dimana kita pertama kali berjumpa...Aku yakin ia telah menjadi bunga yang cantik sekarang...
aku telah terjebak dalam pikiranku yang berusaha menafsirkan tentang cinta...Dan kusadari,semua kembali kepadamu...
Pagi kembali menyambutku dengan kecupan hangat di keningku...Membawaku kembali pada kenyataan bahwa aku mencintaimu...
Sambutlah uluran tanganku dan berdirilah...Kau harus berjuang untuk apa yang kau impikan...
Namun aku takut bahwa aku mengimpikan dirimu...Terkadang aku mengecilkan hakikat keberadaanku sendiri...
Aku sembunyikan luka yang tercipta tatkala kita terpisahkan ruang...Aku pikir dengan suaramu saja itu akan mengembalikannya ke sedia kala...
Waktu berjalan lambat ketika aku telah mengungkapkan rahasia hatiku kepadamu...Lalu apalagi yang dapat kulakukan? Terkadang air matapun tak kuasa aku dapat menahannya...
Sajak adalah kuburan bagi para penyair...Mereka yang merindukan cintanya,dan amat sayang dunia membunuh mereka secara perlahan dalam kesendiriannya...
Aku takut jika ternyata aku dianggap menduakan Tuhanku...Karena sungguh,dirimu selalu tergambar di alam bawah sadarku...
Dan setiap pecinta adalah pengembara...
Aku selalu berharap bahwa engkau adalah tempat peristirahatan terakhirku...Ketika akhirnya ajal menghampiriku dalam wajah bahagia...
Apalah artinya harapan...Aku takut dunia kembali menertawakanku dalam pekat malam...
Dengarkanlah nyanyian musim semi...Riang gembira,seperti ketika hatiku menyambutmu pulang...
Setelah musim dingin yang putih dan membekukan itu mengurungku,aku tahu bahwa engkau kembali dengan kehangatan yang kubutuhkan...
Seringkali aku lupa bahwa kita belum diikat atas nama agama...
Tetapi jauh di dasar hatiku,pemantik semangatku untuk maju adalah untuk memuliakanmu di sampingku...
Cinta seringkali membuatku berkhayal tentang masa depan kita...
Entah mengapa,hanya hal-hal buruk yang selalu terbayangkan...Aku hanya tidak mau terlalu berharap...
Harapan yang kau junjung setinggi langit akan membantingmu ke sebuah "Danau Kefanaan" ketika tidak mampu kita capai...
Mungkin itulah pengertian dari cinta yang tak bertemu...
Apalah gunanya pantai yang indah dengan deburan ombak yang memanjakan telingaku dan cahaya matahari yang membasuh mataku dengan lembut jikalau aku hanya sendiri disana...
Apalah gunanya terumbu karang dengan warnanya yang mempesona disertai ikan-ikan kecil di sekitarnya yang malu-malu tuk keluar jika lagi-lagi aku hanya sendiri disana...
Aku selalu berfikir bahwa waktu berjalan sangat cepat...Namun ketika aku menemukanmu,sepertinya aku salah...
Aku ingin mengetahui apa yang tersembunyi di balik dadamu...Adakah ia berdegup ketika terlintas namaku di matamu?
Aku tidak percaya dengan logika yang selama ini kuagungkan...Dalam cinta,ia membuatku sakit hati...
Cinta selalu disamakan dengan Mawar Merah yang bermekaran indah...Namun aku menganggapmu sebagai Wijayakusuma...
Aku sangat takut untuk membuka pintu pelataran hatimu...Mungkinkah ia sudah penuh sesak?
Aku selalu berfikir bahwa aku tidak pantas dengan semua manusia yang aku cintai...Salahkah jika aku seperti itu?
Karena yang ku ketahui,aku bukanlah satu-satunya...Namun mengapa aku memilihmu?
Aku pernah mendengar syair tua bahwa cinta tidak butuh alasan...
Tetapi sepanjang perjalananku,aku mencintai karena itu kebutuhanku...
Bolehkah aku mengakui sesuatu?
Bukanlah rambut panjangmu itu yang meluaskan pandanganku...Aku pun lupa seperti apa rambutmu itu...
Bukanlah mata indahmu yang melumpuhkanku dalam satu kedipan waktu...
Bukanlah pipi merahmu yang membuatku lemah tak berdaya...
Bukanlah hidung manismu yang membuatku diam membisu terpana...
Bukanlah bibir merahmu yang menjadikan pandanganku tak berpaling pada yang lainnya...
Bukanlah jari-jemari lentikmu yang menyentuh hatiku yang terdalam...
Bukanlah tubuh indah semapaimu yang menciptakan decak kagum dalam benakku...
Bukan pula kaki jenjangmu yang membuatku terpaku di Bumi ketika melihatmu...
Hanya hatimu yang membuatku seolah pernah bertemu denganmu dan membuatku merasa kita terpaut satu...
Wednesday, 29 June 2011
Aku disini menulis sebuah surat
Kurangkai dengan balutan kewibawaan
Kuhimpun menjadi satu dengan kelembutan
Dan kurapihkan dengan penuh kasih sayang
Aku disini menulis sebuah surat
Surat untuk para penguasa
Yang mengendalikan tanah kelahiranku
Di balik semua sandiwara yang mereka sajikan
Aku disini menulis sebuah surat
Sebuah surat yang kuharap menyadarkan mereka
Dari segala hal yang telah mereka lakukan
Tanpa ada melihat ke bawah sedikitpun
Wahai kalian diatas sana
Tengoklah kami,lapisan dunia yang kalian pimpin
Kami berusaha mengikuti walaupun itu menyiksa kami
Sadarkah kalian bahwa kami memiliki batas?
Dan jika saatnya kan tiba
Seluruh dunia akan bergetar dan berhenti bergerak
Saksikanlah langkah kami wahai penguasa!
Kami menyongsong dunia baru impian kami!
Kurangkai dengan balutan kewibawaan
Kuhimpun menjadi satu dengan kelembutan
Dan kurapihkan dengan penuh kasih sayang
Aku disini menulis sebuah surat
Surat untuk para penguasa
Yang mengendalikan tanah kelahiranku
Di balik semua sandiwara yang mereka sajikan
Aku disini menulis sebuah surat
Sebuah surat yang kuharap menyadarkan mereka
Dari segala hal yang telah mereka lakukan
Tanpa ada melihat ke bawah sedikitpun
Wahai kalian diatas sana
Tengoklah kami,lapisan dunia yang kalian pimpin
Kami berusaha mengikuti walaupun itu menyiksa kami
Sadarkah kalian bahwa kami memiliki batas?
Dan jika saatnya kan tiba
Seluruh dunia akan bergetar dan berhenti bergerak
Saksikanlah langkah kami wahai penguasa!
Kami menyongsong dunia baru impian kami!
Dengan apa dayaku tercipta?
Bangkit dari dalam debu
Menghempaskan bebatuan yang menutupiku
Dengan apa aku bertahan?
Dikala tiada lagi penyangga dalam raga
Sesuatu meresap melalui buhul-buhulku
Kepada siapa aku berjalan?
Terombang-ambing dalam lautan dunia
Kaki lemah ku pun merasa tak sanggup
Kepada siapa aku tertuju?
Hanya dengan dua petunjuk
Dapatkah aku kesana?
Dengan siapa aku akan bertahan?
Dunia ini fana,namun bukan akhir dari keberadaanku
Di kala perpisahan menjemput,masihkah ada disana menantiku?
Bangkit dari dalam debu
Menghempaskan bebatuan yang menutupiku
Dengan apa aku bertahan?
Dikala tiada lagi penyangga dalam raga
Sesuatu meresap melalui buhul-buhulku
Kepada siapa aku berjalan?
Terombang-ambing dalam lautan dunia
Kaki lemah ku pun merasa tak sanggup
Kepada siapa aku tertuju?
Hanya dengan dua petunjuk
Dapatkah aku kesana?
Dengan siapa aku akan bertahan?
Dunia ini fana,namun bukan akhir dari keberadaanku
Di kala perpisahan menjemput,masihkah ada disana menantiku?
Monday, 27 June 2011
Selamat malam! Kubayangkan wajahmu samar2 di balik pekatnya malam ini...
Apakah aku salah? Di mata ku,bulan menjadi 2 ketika aku membayangkanmu...
Tetapi,aku hanyalah seorang pemimpi yang berlari dari kenyataan...
Yang ku ketahui adalah aku yang semakin tidak mengenali diri sendiri..
Dan mungkin,kali ini kubiarkan malam secara perlahan menghapus ingatanku...
Tidak tidak tidak...Itu tidak cukup...
Haruskah aku meninggalkan raga ini? Aku mulai merasa lelah...
Tidak,bukan karena engkau,tetapi pikiranku mengatakan bahwa aku tidak seharunya berada disini...
Mungkin saja pikiranku salah,tapi aku lebih percaya dengan itu...
Kau tahu,aku tersesat dalam bayangan yang kuciptakan...
Dan yang pasti,aku termakan akan kata-kata yang terngiang di dalam pikiranku...
Berikan aku satu hal yang membuatku mengurungkan niatku,dapatkah kau memberikannya?
Yasudah,tidak usah kau jawab,itu terlihat tidak berguna sama sekali...
Lagipula,aku hanyalah lelaki yang terikat lidah dan pikirannya...Mereka berdua tidak bebas...
Semua terlihat seperti tertahan dan terlalu tidak sempurna...
Bukankah sesuatu yang tidak sempurna itu hanyalah sampah?
Silahkan buang diriku ke tempat yang kau inginkan...
Pasti tidak akan ada satu pun manusia yang akan mencariku...
Apakah aku salah? Di mata ku,bulan menjadi 2 ketika aku membayangkanmu...
Tetapi,aku hanyalah seorang pemimpi yang berlari dari kenyataan...
Yang ku ketahui adalah aku yang semakin tidak mengenali diri sendiri..
Dan mungkin,kali ini kubiarkan malam secara perlahan menghapus ingatanku...
Tidak tidak tidak...Itu tidak cukup...
Haruskah aku meninggalkan raga ini? Aku mulai merasa lelah...
Tidak,bukan karena engkau,tetapi pikiranku mengatakan bahwa aku tidak seharunya berada disini...
Mungkin saja pikiranku salah,tapi aku lebih percaya dengan itu...
Kau tahu,aku tersesat dalam bayangan yang kuciptakan...
Dan yang pasti,aku termakan akan kata-kata yang terngiang di dalam pikiranku...
Berikan aku satu hal yang membuatku mengurungkan niatku,dapatkah kau memberikannya?
Yasudah,tidak usah kau jawab,itu terlihat tidak berguna sama sekali...
Lagipula,aku hanyalah lelaki yang terikat lidah dan pikirannya...Mereka berdua tidak bebas...
Semua terlihat seperti tertahan dan terlalu tidak sempurna...
Bukankah sesuatu yang tidak sempurna itu hanyalah sampah?
Silahkan buang diriku ke tempat yang kau inginkan...
Pasti tidak akan ada satu pun manusia yang akan mencariku...
Monday, 20 June 2011
Aku...
Setiap manusia menggariskan lingkarannya masing-masing...
Namun tiap-tiap mereka hanya memiliki dua lingkaran...
Satu untuk diri mereka sendiri...
Satu untuk yang mereka pilih...
Lingkaran untuk diri sendiri...
Besarkah? Atau kah kecil?
Dimana sebenarnya esensi kehidupan baginya?
Bukankah dunia tercipta begitu luasnya?
Lingkaran untuk yang mereka pilih...
Seperti apa kah mereka yang akan engkau pilih?
Mengapa engkau memilih mereka?
Lalu apa tujuanmu memilih mereka?
Besar atau kecilnya diriku adalah cermin dari ia yang menggambarku...
Sebesar apa kehidupan baginya,itulah aku...
Setiap detail terkecil hingga hal yang tidak diperhatikan adalah nilai bagi keberadaanku...
Dan dengan pandangan dia akan dunia yang menciptakan persepsinya sendiri dalam akal...
Mereka yang aku pilih adalah mereka yang mengakui keberadaanku...
Yang menyertaiku dan yang terlibat dalam hatiku maupun duniaku...
Aku menggunakan ini sebagai pertanda bahwa mereka adalah kebahagiaan tersendiri dalam hidupku...
Dan dengan memilih mereka,aku akan bahagia jika jiwaku dapat dipertaruhkan bagi mereka...
Di setiap detik dan helaan nafas yang ku hembuskan...
Di setiap langkah dan derap yang kuayunkan...
Di setiap kedipan dan pandangan yang ku hamparkan...
Aku bahagia jika dapat mencintai kalian sepenuhnya...
Hanya ada satu yang menghambatku untuk mengungkapkannya...
Aku tidak pandai berbicara sama sekali dengan perasaanku...
Aku tidak mengenal kata dalam lisan...
Perbuatanku membuatku semakin ingin melakukan yang lebih... jauh lebih berarti...
Namun aku manusia,sama seperti kalian...
Suatu saat,aku pun ingin dianggap lebih...
Namun kekeliruan yang teramat sangat besar yang terjadi...
Beberapa dari kalian menjauhiku...
Tahukah kalian?
Seberapapun luasnya dunia...
Seberapapun dalamnya lautan...
Ketika aku kehilangan salah satu dari kalian,semua seakan sia-sia...
Dan selama apapun aku berusaha menyelami diriku...
Apapun yang terjadi,aku tidak bisa memungkiri bahwa aku akan menyalahkan aku...
Dan pada akhirnya,kalian akan menjauhiku karena aku yang menyalahkan diriku sendiri...
Aku hanya ingin...menjadi apa yang kalian harapkan,apapun itu resikonya...
Terkadang aku berfikir untuk pergi selamanya dari hadapan kalian...
Berpura-pura gila dan pergi dari tempat ini sepertinya pilihan terbaik...
Namun aku menjadi manusia yang tidak utuh...
Karena aku telah melepaskan keyakinanku untuk dapat melindungi kalian...
Aku bukan raga tanpa jiwa...
Sekalipun itu akan menghentikanku,aku akan berjuang...
Aku akan berusaha menyingkirkan hambatanku...
Hingga ia yang pergi...atau aku yang akan terhentikan...
Namun tiap-tiap mereka hanya memiliki dua lingkaran...
Satu untuk diri mereka sendiri...
Satu untuk yang mereka pilih...
Lingkaran untuk diri sendiri...
Besarkah? Atau kah kecil?
Dimana sebenarnya esensi kehidupan baginya?
Bukankah dunia tercipta begitu luasnya?
Lingkaran untuk yang mereka pilih...
Seperti apa kah mereka yang akan engkau pilih?
Mengapa engkau memilih mereka?
Lalu apa tujuanmu memilih mereka?
Besar atau kecilnya diriku adalah cermin dari ia yang menggambarku...
Sebesar apa kehidupan baginya,itulah aku...
Setiap detail terkecil hingga hal yang tidak diperhatikan adalah nilai bagi keberadaanku...
Dan dengan pandangan dia akan dunia yang menciptakan persepsinya sendiri dalam akal...
Mereka yang aku pilih adalah mereka yang mengakui keberadaanku...
Yang menyertaiku dan yang terlibat dalam hatiku maupun duniaku...
Aku menggunakan ini sebagai pertanda bahwa mereka adalah kebahagiaan tersendiri dalam hidupku...
Dan dengan memilih mereka,aku akan bahagia jika jiwaku dapat dipertaruhkan bagi mereka...
Di setiap detik dan helaan nafas yang ku hembuskan...
Di setiap langkah dan derap yang kuayunkan...
Di setiap kedipan dan pandangan yang ku hamparkan...
Aku bahagia jika dapat mencintai kalian sepenuhnya...
Hanya ada satu yang menghambatku untuk mengungkapkannya...
Aku tidak pandai berbicara sama sekali dengan perasaanku...
Aku tidak mengenal kata dalam lisan...
Perbuatanku membuatku semakin ingin melakukan yang lebih... jauh lebih berarti...
Namun aku manusia,sama seperti kalian...
Suatu saat,aku pun ingin dianggap lebih...
Namun kekeliruan yang teramat sangat besar yang terjadi...
Beberapa dari kalian menjauhiku...
Tahukah kalian?
Seberapapun luasnya dunia...
Seberapapun dalamnya lautan...
Ketika aku kehilangan salah satu dari kalian,semua seakan sia-sia...
Dan selama apapun aku berusaha menyelami diriku...
Apapun yang terjadi,aku tidak bisa memungkiri bahwa aku akan menyalahkan aku...
Dan pada akhirnya,kalian akan menjauhiku karena aku yang menyalahkan diriku sendiri...
Aku hanya ingin...menjadi apa yang kalian harapkan,apapun itu resikonya...
Terkadang aku berfikir untuk pergi selamanya dari hadapan kalian...
Berpura-pura gila dan pergi dari tempat ini sepertinya pilihan terbaik...
Namun aku menjadi manusia yang tidak utuh...
Karena aku telah melepaskan keyakinanku untuk dapat melindungi kalian...
Aku bukan raga tanpa jiwa...
Sekalipun itu akan menghentikanku,aku akan berjuang...
Aku akan berusaha menyingkirkan hambatanku...
Hingga ia yang pergi...atau aku yang akan terhentikan...
Subscribe to:
Posts (Atom)