Aku mencintaimu bukan karena wajah ayumu
Melainkan karna hatimu yang berbicara pada hatiku
Aku mencintaimu bukan karna senyum lembutmu
Melainkan karna kelembutan hatimu dalam menerima
Aku mencintaimu bukan karna kata-kata manismu yang menggoda
Melainkan karna hatimu memaniskan hari-hariku
Dan satu hal yang pasti wahai kekasihku...
Hati ini takkan pernah menyatu tanpa restu dari Sang Pemilik Cinta
Tuesday, 14 September 2010
Monday, 13 September 2010
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan,
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan yang baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan mereka yang telah mencoba.
Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.
-Kahlil Gibran
(dengan ini,saya mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh teman-teman yang telah mendukung saya dan memberi saya semangat serta selalu menemani saya dikala saya butuh. Dan terima kasih banyak untuk kedua orang tua serta sanak keluarga,untuk Dede aji (Kawan SD), Panji Saputra , Risma Aris Sandi(Sobat SMP), Hafiyanda Razan,Arreza Pramudia,Abdul Rahman,Hamzah Izzulhaq kawan2 X-6, Teman-teman XI IPA 4 dan XII IPA 4 serta untuk Cut Sarah Medina dan Yunevialkha)
seseorang yang tidak ingin kita tinggalkan,
tapi melepaskan bukan akhir dari dunia,
melainkan suatu awal kehidupan yang baru,
kebahagiaan ada untuk mereka yang tersakiti,
mereka yang telah dan tengah mencari dan mereka yang telah mencoba.
Karena merekalah yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.
-Kahlil Gibran
(dengan ini,saya mengucapkan terima kasih banyak kepada seluruh teman-teman yang telah mendukung saya dan memberi saya semangat serta selalu menemani saya dikala saya butuh. Dan terima kasih banyak untuk kedua orang tua serta sanak keluarga,untuk Dede aji (Kawan SD), Panji Saputra , Risma Aris Sandi(Sobat SMP), Hafiyanda Razan,Arreza Pramudia,Abdul Rahman,Hamzah Izzulhaq kawan2 X-6, Teman-teman XI IPA 4 dan XII IPA 4 serta untuk Cut Sarah Medina dan Yunevialkha)
Sunday, 12 September 2010
Sinar rembulan terangi malam ini
Sambutan riang nokturnal alam sunyi
Dibalik cerahnya pesan damai
Mengajari pesan yang tak sampai
Tatkala fajar menampakkan diri
Terukir jelas kerinduan sang mentari
Terhadap sang rembulan yang telah beranjak pergi
Entah kapan kan bertemu lagi
Seberkas ketenangan yang telah sang rembulan torehkan di dunia ini
Membuat sang mentari terlepas dari alam sadarnya
Kerinduan untuk menenangkan hati yang telah lama gundah
Berharap tuk bertemu denganmu wahai purnama nan lembut
-Narayana
Sambutan riang nokturnal alam sunyi
Dibalik cerahnya pesan damai
Mengajari pesan yang tak sampai
Tatkala fajar menampakkan diri
Terukir jelas kerinduan sang mentari
Terhadap sang rembulan yang telah beranjak pergi
Entah kapan kan bertemu lagi
Seberkas ketenangan yang telah sang rembulan torehkan di dunia ini
Membuat sang mentari terlepas dari alam sadarnya
Kerinduan untuk menenangkan hati yang telah lama gundah
Berharap tuk bertemu denganmu wahai purnama nan lembut
-Narayana
Batas
Kita itu sama.
Layaknya matahari dan bulan.
Mereka bersama menyinari alam ini.
Namun mentari merona merah dikala mereka bekerja keras
Sedangkan sang rembulan tersenyum ayu dikala mereka terlelap
Kita itu sama.
Layaknya burung di udara dan ikan di lautan.
Mereka bersama melayang di dunia ini.
Namun burung melayang tanpa batas yang dia fikirkan
Sedangkan ikan melayang dalam dunia bawah laut yang dia harapkan
Dan sedangkan saat ini yaa kawan.
Masihkah kau menemukan bahwa kita ini sama?
Tergaris jelas bahwa dunia kita terpisah dan terlepas
Masihkah kau berkata bahwa kita sama?
Namun yang jelas wahai saudaraku
Layaknya matahari dan rembulan nan ayu.
Umpama burung dan ikan di lautan
Itu semua tak lain dan tak bukan adalah hanya makhluk
Makhluk yang tercipta oleh kehendak Yang Maha Kuasa
-Narayana
Layaknya matahari dan bulan.
Mereka bersama menyinari alam ini.
Namun mentari merona merah dikala mereka bekerja keras
Sedangkan sang rembulan tersenyum ayu dikala mereka terlelap
Kita itu sama.
Layaknya burung di udara dan ikan di lautan.
Mereka bersama melayang di dunia ini.
Namun burung melayang tanpa batas yang dia fikirkan
Sedangkan ikan melayang dalam dunia bawah laut yang dia harapkan
Dan sedangkan saat ini yaa kawan.
Masihkah kau menemukan bahwa kita ini sama?
Tergaris jelas bahwa dunia kita terpisah dan terlepas
Masihkah kau berkata bahwa kita sama?
Namun yang jelas wahai saudaraku
Layaknya matahari dan rembulan nan ayu.
Umpama burung dan ikan di lautan
Itu semua tak lain dan tak bukan adalah hanya makhluk
Makhluk yang tercipta oleh kehendak Yang Maha Kuasa
-Narayana
Asa di penghujung hari
Ketika malam menyelimuti bumi
Alam pun kian berseri di akhir hari
Detik waktu pun mulai terganti
Di setiap hela nafas pelantun ayat samawi
Demi langit yang memayungi
Dan demi bumi yang berdiam diri
Sampaikanlah isi hati sang pelantun suci
Menuju Arasy Sang Pencipta bumi dan seisi
Alam pun kian berseri di akhir hari
Detik waktu pun mulai terganti
Di setiap hela nafas pelantun ayat samawi
Demi langit yang memayungi
Dan demi bumi yang berdiam diri
Sampaikanlah isi hati sang pelantun suci
Menuju Arasy Sang Pencipta bumi dan seisi
Wednesday, 11 August 2010
Telah sampai nafasku ini
Dalam sebuah simpul suci nan fitri
Selayang pandang jiwaku ini
Menemui-Mu wahai Illahi Rabbi
Engkau tebarkan kolam-kolam berkah-Mu
Dalam hidup yang gersang nan malang
Engkau basuhkan air yang melegakan
Dalam hati yang lelahkan ku
Aku buktikan cinta ini pada-Mu
Janganlah Engkau meninggalkan daku
Aku buktikan dengan kesetiaannku
Namun lebih indah balasan dari-Mu
Tibalah saat kita bersama
Ingatkan diri akan sebuah kemenangan
Cerita cinta kita dalam satu kertas putih
-M.Nicova
Subscribe to:
Posts (Atom)